Ekonomi

Danantara Pangkas 290 BUMN Demi Efisiensi Anggaran Rp50 Triliun

49
×

Danantara Pangkas 290 BUMN Demi Efisiensi Anggaran Rp50 Triliun

Sebarkan artikel ini
CEO Danantara Rosan Roeslani saat memberikan laporan efisiensi BUMN kepada Presiden Prabowo Subianto di Hambalang.
CEO Danantara Rosan Roeslani melaporkan efisiensi 290 BUMN kepada Presiden Prabowo Subianto di Hambalang.

JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) resmi melakukan perampingan terhadap 290 perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah strategis ini diklaim berhasil menghemat anggaran negara hingga Rp 50 triliun.

Laporan efisiensi tersebut disampaikan langsung oleh Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, kepada Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan koordinasi berlangsung di Hambalang, Jawa Barat, pada 4 September 2026.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo membahas agenda percepatan hilirisasi industri dan penataan BUMN. Hadir dalam pembahasan itu Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.

Pemerintah tidak berhenti pada angka 290 perusahaan. Target penataan BUMN akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026.

Sekretariat Kabinet mencatat pemerintah menargetkan penutupan sedikitnya 700 BUMN tambahan hingga Desember 2026. Proyeksi efisiensi dari total rekonstruksi ini diperkirakan mencapai Rp 100 triliun.

Langkah perampingan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat investasi. Kebijakan tersebut juga bertujuan menciptakan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi Indonesia melalui hilirisasi sumber daya alam.

Salah satu fokus utama penataan dilakukan pada PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Dony Oskaria menegaskan bahwa ADHI akan diarahkan memiliki struktur usaha yang lebih sederhana dan terintegrasi.

Saat ini, ADHI memiliki 18 entitas anak usaha. Penataan dilakukan untuk mengembalikan fokus perusahaan pada bisnis inti sebagai kontraktor guna mendukung penyehatan keuangan.

Dony melarang perusahaan tersebut membentuk anak usaha baru di masa depan. Menurutnya, keberadaan banyak anak perusahaan selama ini justru menimbulkan beban finansial bagi induk usaha.

ADHI menargetkan penyelesaian rekonstruksi keuangan pada September 2026. Anak usaha di sektor properti, termasuk PT Adhi Commuter Properti Tbk, kini sedang menjalani uji tuntas menyeluruh.

Langkah serupa juga dilakukan oleh PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR). Perusahaan ini melakukan konsolidasi besar-besaran terhadap sejumlah entitas anaknya melalui dua skema merger.

Skema pertama melibatkan peleburan PT Semen Indonesia Beton, PT Solusi Bangun Beton, dan PT Readymix Concrete Indonesia ke dalam PT Varia Usaha Beton (VUB). VUB ditetapkan sebagai entitas yang akan tetap berdiri setelah proses merger selesai.

Skema kedua melibatkan penggabungan tujuh anak usaha lainnya ke dalam Distributor PT Semen Indonesia (SID). Tujuh entitas tersebut meliputi PT Semen Kupang Indonesia, PT Semen Indonesia International, serta lima perusahaan lainnya.

Kesepakatan penggabungan ini telah ditandatangani pada 21 Agustus 2026. Manajemen SMGR menyatakan langkah ini merupakan bagian dari upaya penguatan portofolio distribusi bahan bangunan yang terintegrasi.

Proses merger tersebut saat ini masih menunggu pemenuhan ketentuan dalam Perjanjian Penggabungan Bersyarat. Efektivitas penggabungan akan berlaku setelah mendapatkan persetujuan perubahan Anggaran Dasar dari Menteri Hukum Republik Indonesia.