SYDNEY – Harga minyak dunia kembali mencatatkan reli pada perdagangan Rabu (2/9/2026) pagi, dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Kekhawatiran akan gangguan pasokan global meningkat tajam setelah kedua negara terlibat dalam serangkaian serangan militer.
Hingga pukul 08.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman November 2026 melonjak 87 sen atau 0,92% menjadi US$ 95,52 per barel. Tren serupa terjadi pada minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kontrak Oktober 2026 yang menguat 80 sen atau 0,89% ke level US$ 91,02 per barel.
Lonjakan harga ini merupakan kelanjutan dari reli yang terjadi pada Selasa (1/9/2026), di mana kedua kontrak tersebut naik lebih dari US$ 4 per barel. Peningkatan ini tercatat sebagai kenaikan harian tertinggi sejak akhir Juli lalu.
Eskalasi konflik mencapai titik krusial setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap target-target di Iran. Langkah ini merupakan respons atas serangkaian upaya serangan dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan pangkalan militer AS di kawasan tersebut.
Kondisi keamanan di Selat Hormuz kini semakin terancam. Jalur air vital yang menyuplai sekitar seperlima konsumsi minyak global tersebut praktis tertutup bagi pelayaran komersial akibat ketegangan yang kian memanas.
Pihak IRGC menegaskan bahwa serangan balasan dari AS akan semakin membatasi lalu lintas di jalur strategis tersebut. Selain itu, IRGC mengklaim telah meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania serta serangan drone ke pangkalan AS di Bahrain.
Militer Yordania mengonfirmasi telah mencegat 10 dari 13 rudal balistik yang memasuki wilayah udaranya. Hingga saat ini, pejabat AS menyatakan belum ada laporan mengenai korban jiwa dari pihak Amerika.
Ketegangan regional ini diperparah dengan laporan dari Kuwait yang menyatakan angkatan bersenjatanya sedang merespons aktivitas drone musuh di wilayah mereka. Kondisi ini memperkuat sentimen negatif di pasar energi global.
Gangguan pasokan juga dipicu oleh serangan terhadap dua kapal tanker yang baru saja meninggalkan Selat Hormuz pada hari Senin lalu. Peristiwa tersebut memaksa para pedagang minyak untuk mencari jalur pengiriman alternatif yang lebih aman.
Di sisi lain, data dari American Petroleum Institute menunjukkan adanya penurunan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat sebesar 2,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus. Stok distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, juga dilaporkan menyusut sebanyak 265.000 barel.
Situasi ini menempatkan pasar energi dalam tekanan berat, mengingat defisit minyak global saat ini mencapai 1,8 juta barel per hari. Para analis mencermati bahwa kebuntuan di Selat Hormuz menjadi faktor utama penopang harga minyak di level tinggi.
Sementara itu, di pasar domestik Indonesia, harga emas batangan bersertifikat Antam terpantau mengalami koreksi tajam. Pada hari yang sama, harga emas Antam anjlok Rp 40.000 menjadi Rp 2.624.000 per gram.






