Ekonomi

Danantara Pangkas 29 Anak Usaha Brantas Abipraya demi Efisiensi BUMN

26
×

Danantara Pangkas 29 Anak Usaha Brantas Abipraya demi Efisiensi BUMN

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor PT Brantas Abipraya di Jakarta
Danantara memangkas 29 anak usaha PT Brantas Abipraya untuk meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah mempercepat proses restrukturisasi terhadap BUMN sektor konstruksi atau BUMN Karya. Langkah strategis ini mencakup pemangkasan 29 entitas anak usaha PT Brantas Abipraya (Persero) untuk mengembalikan fokus perusahaan pada bisnis inti sebagai kontraktor.

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa proses perampingan atau streamlining tersebut ditargetkan segera rampung. Melalui kebijakan ini, struktur korporasi hanya akan menyisakan induk perusahaan agar operasional lebih efisien dan fokus.

Dony menilai Brantas Abipraya sebagai salah satu BUMN Karya dengan kondisi fundamental yang paling sehat. Upaya pembersihan anak dan cucu perusahaan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat posisi perusahaan di industri konstruksi nasional.

Di sisi lain, BPI Danantara saat ini tengah menghadapi tantangan besar terkait beban utang BUMN Karya yang mencapai Rp180 triliun. Dony mengakui bahwa persoalan utang tersebut telah beranak pinak, bahkan mencakup beban keuangan yang bersumber dari anak-anak perusahaan.

Dari tujuh BUMN Karya yang berada di bawah naungan Danantara, hanya tiga perusahaan yang dinilai memiliki kesehatan keuangan yang terjaga, yakni PT Nindya Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Hutama Karya. Danantara berkomitmen menjaga ketiga perusahaan ini agar tidak terjerumus ke dalam krisis keuangan yang dialami oleh empat BUMN Karya lainnya.

Proses perbaikan BUMN Karya saat ini dilakukan secara bertahap dan menyeluruh. Dony menekankan bahwa restrukturisasi tidak hanya bertujuan memperbaiki tampilan laporan keuangan, tetapi menyasar pembenahan fundamental melalui penataan ulang peta jalan bisnis.

Salah satu kendala utama dalam penyelesaian utang ini adalah ketimpangan antara nilai aset perusahaan dengan total kewajiban yang harus dibayar. Dony menyebutkan bahwa aset yang dimiliki beberapa BUMN Karya tidak mencukupi untuk menutup total utang yang ada saat ini.

Langkah efisiensi ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta jajaran BUMN, termasuk Pertamina dan PLN, untuk merampingkan struktur organisasi. Pemangkasan lapisan anak dan cucu perusahaan menjadi prioritas utama pemerintah demi menekan biaya operasional yang tidak produktif.

BPI Danantara mematok target agar seluruh proses restrukturisasi BUMN Karya dapat terselesaikan sepenuhnya pada akhir tahun 2026. Hingga saat ini, Danantara masih terus mengkaji skenario penyelesaian utang yang paling efektif bagi masing-masing perusahaan.

Di luar sektor konstruksi, Danantara juga tengah mencermati kinerja BUMN farmasi, PT Indofarma Tbk (INAF). Perusahaan tersebut saat ini menghadapi tekanan keuangan yang berat hingga mengganggu operasional, sehingga memicu spekulasi mengenai kemungkinan likuidasi.

Restrukturisasi ini menjadi bagian dari upaya transformasi besar-besaran untuk mengelola aset negara secara lebih profesional. Pemerintah berharap langkah ini mampu memulihkan kinerja BUMN agar kembali memberikan kontribusi optimal bagi perekonomian nasional.