Bursa Saham

Prospek Saham GIAA dan CMPP Jelang Nataru di Tengah Aturan Baru

61
×

Prospek Saham GIAA dan CMPP Jelang Nataru di Tengah Aturan Baru

Sebarkan artikel ini
Pesawat Garuda Indonesia dan AirAsia bersiap di landasan pacu bandara jelang periode libur Nataru.
Kinerja saham Garuda Indonesia (GIAA) dan AirAsia Indonesia (CMPP) disorot menjelang libur Nataru 2026/2027.

JAKARTA – Prospek kinerja emiten maskapai penerbangan nasional, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP), menjadi sorotan utama pasar menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027. Kebijakan kenaikan batas maksimal fuel surcharge (FS) menjadi 40% dari Tarif Batas Atas (TBA) diharapkan mampu memberikan bantalan bagi margin operasional maskapai di tengah fluktuasi harga bahan bakar.

Peningkatan batas fuel surcharge dari sebelumnya 30% menjadi 40% berfungsi sebagai mekanisme perlindungan arus kas perusahaan. Kebijakan ini dinilai krusial mengingat harga avtur per 1 September 2026 tercatat berada di level Rp23.315 per liter, yang mencerminkan kenaikan 6,5% secara bulanan.

Bahan bakar avtur sendiri berkontribusi signifikan terhadap struktur biaya operasional maskapai, yakni mencakup 30% hingga 40% dari total pengeluaran. Meski terdapat ruang kenaikan tarif, penerapan surcharge di tingkat maskapai dipastikan tidak akan maksimal demi menjaga daya beli konsumen dan tingkat permintaan pasar.

Analis pasar menilai kebijakan ini sebagai langkah transisi yang efektif, namun belum sepenuhnya mampu mengompensasi lonjakan beban operasional. Maskapai tetap dituntut melakukan efisiensi pada aspek non-avtur, meningkatkan okupansi kursi, serta menjaga stabilitas nilai tukar agar profitabilitas tetap terjaga.

Permintaan tiket pesawat pada periode Nataru diproyeksikan tetap tinggi dan cenderung inelastis. Karakteristik penumpang pada musim liburan yang didominasi kebutuhan mobilitas keluarga dan cuti bersama diperkirakan menjaga tingkat keterisian penumpang (load factor) di atas 80%.

Keberadaan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang ditanggung pemerintah turut membantu menekan harga tiket akhir bagi konsumen. Kombinasi kebijakan ini diharapkan mampu memitigasi dampak kenaikan harga tiket di kisaran 9% hingga 13% selama periode puncak liburan tersebut.

Namun, tantangan diprediksi akan muncul setelah periode Nataru berakhir pada Januari hingga Februari 2027. Hilangnya faktor musiman memaksa maskapai untuk lebih cermat dalam mengelola utilisasi armada di tengah tekanan tarif yang lebih kompetitif.

Dari sisi kinerja fundamental, GIAA dinilai memiliki peluang pemulihan (turnaround) yang lebih kredibel dibandingkan CMPP. Saham GIAA mendapat dukungan positif dari pertumbuhan pendapatan kuartal I 2026 sebesar 5,36% serta suntikan modal strategis dari Danantara senilai Rp6,6 triliun.

Rencana konsolidasi antara Garuda Indonesia dengan Pelita Air juga menjadi katalis jangka menengah yang memperkuat posisi perusahaan. Sebaliknya, CMPP masih menghadapi tekanan profitabilitas dengan catatan rugi bersih sebesar Rp1,45 triliun pada semester I 2026.

Meskipun CMPP mencatatkan perbaikan pada kerugian operasional sebesar 6,9%, kerentanan terhadap harga avtur dan pelemahan rupiah tetap menjadi risiko utama. Dukungan tambahan dari kebijakan diskon harga avtur oleh Pertamina sebesar 10% di 37 bandara selama Nataru diharapkan mampu memperbaiki margin operasional maskapai di kuartal IV 2026.

Secara keseluruhan, pelaku pasar disarankan untuk tetap memperhatikan faktor eksternal seperti beban bunga dan selisih kurs. Rekomendasi investasi untuk GIAA cenderung bersifat buy on breakout dengan target harga Rp76 hingga Rp80 per saham, sementara CMPP dinilai lebih cocok untuk strategi hold atau trading on weakness.