Teknologi

Harga HP Naik, Perhatikan 3 Hal Ini Sebelum Membeli Ponsel Baru

52
×

Harga HP Naik, Perhatikan 3 Hal Ini Sebelum Membeli Ponsel Baru

Sebarkan artikel ini
Tampilan deretan ponsel pintar terbaru yang dipajang di gerai ritel elektronik.
Harga ponsel pintar global diproyeksikan melonjak signifikan pada tahun 2026 akibat kelangkaan pasokan cip memori.

JAKARTA – Harga perangkat seluler global diproyeksikan melonjak signifikan sepanjang tahun 2026 akibat kelangkaan pasokan cip memori. Kondisi ini memaksa konsumen untuk mengubah strategi pembelian, dari sekadar mengejar spesifikasi tinggi menjadi lebih fokus pada aspek daya tahan, konsistensi performa, dan umur pakai perangkat.

Data International Data Corporation (IDC) mencatat, harga jual rata-rata ponsel pintar global kini diperkirakan naik 27,6% menjadi US$ 581 atau sekitar Rp 10,3 juta. Angka ini merupakan revisi ke atas dari proyeksi awal yang sempat dipatok pada angka US$ 523 pada Februari lalu.

Lonjakan harga ini dipicu oleh pergeseran fokus produsen memori dunia. Sebagian besar kapasitas produksi DRAM dan NAND kini dialihkan untuk memproduksi high-bandwidth memory (HBM) yang sangat dibutuhkan oleh pusat data kecerdasan buatan (AI).

Sektor pusat data AI saat ini menyerap sekitar 70% dari total produksi memori global. Selain karena permintaan yang masif, margin keuntungan dari komponen HBM tercatat tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan memori untuk perangkat konsumen.

Data IDC menunjukkan dampak nyata pada biaya komponen selama kuartal kedua 2026, di mana biaya memori melonjak hampir 300% secara tahunan (year-on-year). Pada kuartal pertama saja, harga DRAM global sudah terkerek naik lebih dari 50%, sementara NAND Flash melonjak di atas 90%.

Tekanan biaya ini memaksa produsen ponsel untuk melakukan penyesuaian strategi. Banyak vendor kini memilih untuk tidak meningkatkan kapasitas RAM pada perangkat flagship mereka, atau bahkan menurunkan spesifikasi komponen lain seperti kamera dan layar guna menekan harga jual.

Senior Analyst Counterpoint Research, Shenghao Bai, mengonfirmasi bahwa perubahan konfigurasi komponen ini sudah mulai diterapkan pada berbagai model ponsel di pasaran. Konsumen kini disarankan untuk tidak hanya terpaku pada angka spesifikasi saat memilih perangkat baru.

Terdapat tiga aspek krusial yang perlu diperhatikan agar investasi perangkat dapat bertahan dalam jangka panjang. Pertama, konsumen harus mengevaluasi daya tahan baterai untuk penggunaan harian intensif dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun ke depan.

Kedua, konsistensi performa menjadi indikator penting selain sekadar kapasitas RAM. Perangkat yang ideal harus mampu menjaga stabilitas sistem dan tetap responsif saat menjalankan berbagai aplikasi setelah lebih dari satu tahun pemakaian.

Ketiga, umur pakai perangkat harus dipertimbangkan melalui ketersediaan suku cadang dan komitmen produsen terhadap pembaruan sistem operasi serta keamanan. Ponsel yang tidak lagi menerima pembaruan perangkat lunak akan memiliki nilai guna yang terbatas meski kondisi fisiknya masih baik.

Tekanan harga ini diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Para ahli memprediksi ketimpangan pasokan memori dapat terus berlanjut hingga tahun 2028, bahkan berisiko bertahan hingga melewati 2030 sebelum pabrik dapat berproduksi penuh.

Nabila Popal, Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices, menegaskan bahwa era ponsel pintar dengan harga sangat murah telah berakhir. Vendor yang mampu menyesuaikan struktur biaya dan mempertahankan loyalitas konsumen pada tingkat harga baru akan menjadi pihak yang bertahan di pasar.

Dampak kenaikan harga paling dirasakan pada segmen ponsel murah dengan harga di bawah US$ 200 atau sekitar Rp 3,5 juta. Biaya komponen untuk kategori ini telah melonjak 20% hingga 30% sejak awal tahun, yang secara langsung menyulitkan produsen untuk menjaga keterjangkauan harga.

Pasar Indonesia termasuk yang terdampak cukup signifikan akibat ketergantungan pada segmen entry-level dan kelas menengah. Data Counterpoint menunjukkan kenaikan harga ponsel di Indonesia berkisar antara 7% hingga 45% untuk berbagai kategori produk.

Akibat tren kenaikan harga ini, banyak konsumen di Tanah Air mulai menunda pembelian perangkat baru atau beralih ke pasar ponsel bekas dan refurbished. Sementara itu, segmen premium justru mencatat pertumbuhan sebesar 30% secara tahunan, menunjukkan ketahanan pasar kelas atas di tengah inflasi global.