Energi

Bahlil Targetkan Lifting Minyak 612 Ribu Barel per Hari pada 2027

63
×

Bahlil Targetkan Lifting Minyak 612 Ribu Barel per Hari pada 2027

Sebarkan artikel ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan terkait target lifting minyak nasional tahun 2027
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan lifting minyak nasional mencapai 612.500 barel per hari pada tahun 2027.

JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menetapkan target lifting atau produksi minyak siap jual nasional sebesar 612.500 barel per hari (bph) pada 2027. Angka ini mencerminkan kenaikan dibandingkan target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dipatok sebesar 610.000 bph.

Langkah ini diambil pemerintah sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Bahlil menyatakan optimisme terhadap pencapaian target tersebut meskipun saat ini sektor hulu migas menghadapi tantangan penurunan produksi.

Strategi peningkatan produksi akan difokuskan pada optimalisasi sumur-sumur potensial di wilayah Sumatra. Selain itu, pemerintah mendorong penggunaan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) untuk memaksimalkan cadangan minyak yang ada.

Pengembangan di wilayah kerja migas yang dikelola oleh Petronas di Madura juga menjadi tumpuan utama peningkatan produksi. Pemerintah berkomitmen memastikan kelancaran operasional pipa dan sistem kelistrikan di lapangan guna menghindari gangguan produksi.

Saat ini, pemerintah mengakui realisasi lifting minyak masih berada di bawah target APBN 2026. Data Kementerian ESDM per Juli 2026 menunjukkan capaian lifting baru menyentuh angka 578.000 bph atau sekitar 94,75% dari target.

Penurunan kinerja produksi dipicu oleh beberapa kendala teknis di lapangan utama. Salah satunya adalah penurunan produksi alami yang ekstrem pada Blok Cepu yang dikelola ExxonMobil.

Produksi di Blok Cepu tercatat hanya mencapai 142.000 bph, jauh di bawah kapasitas puncaknya yang sebesar 185.000 bph. Selain itu, gangguan kelistrikan dan kebocoran pipa TGI di Sumatra turut menghambat operasional Blok Rokan.

Gangguan di Blok Rokan, yang merupakan salah satu penyumbang produksi terbesar nasional, menyebabkan kehilangan potensi produksi hingga 4-5 juta barel. Kendala teknis ini menjadi faktor utama melesetnya target produksi sepanjang tahun berjalan.

Menanggapi kondisi tersebut, SKK Migas telah menyiapkan langkah mitigasi untuk mengejar target hingga akhir tahun 2026. Kepala SKK Migas Djoko Siswanto memproyeksikan kenaikan produksi akan terjadi secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan.

Produksi diprediksi menyentuh angka 607.000 bph pada September dan diharapkan mencapai 610.000 bph pada Oktober. Puncaknya, lifting minyak nasional ditargetkan menembus level 617.000 hingga 618.000 bph pada November dan Desember 2026.

Di sisi lain, pemerintah juga terus memantau kinerja sektor hilir energi, termasuk distribusi bahan bakar nabati. Kementerian ESDM mencatat realisasi penyaluran biodiesel 50 persen (B50) telah mencapai kisaran 75-80% per 31 Agustus 2026.

Pengawasan ketat akan terus dilakukan guna memastikan transisi energi berjalan seiring dengan pemenuhan kebutuhan BBM nasional. Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas pasokan energi tetap menjadi prioritas utama di tengah fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang dipatok pada level 75 dolar AS per barel untuk 2027.