JAKARTA – Nilai tukar rupiah pada awal pekan ini diproyeksikan akan menguji tren penguatannya di tengah penantian pasar terhadap rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS). Data tersebut menjadi indikator kunci yang akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed.
Pada penutupan perdagangan Jumat (4/9), rupiah tercatat menguat 37 poin atau 0,21% ke level Rp 17.642 per dolar AS. Data kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan penguatan serupa di level Rp 17.636 per dolar AS.
Penguatan mata uang Garuda pada akhir pekan lalu didorong oleh meredanya tekanan dolar AS global. Selain itu, terdapat aliran masuk modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Kendati demikian, para analis menilai penguatan tersebut masih bersifat defensif. Pasar saat ini berada dalam posisi siaga menghadapi laporan data tenaga kerja AS untuk periode Agustus.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa faktor eksternal masih memegang kendali utama pergerakan kurs. Faktor global seperti ekspektasi suku bunga The Fed, imbal hasil US Treasury, serta harga minyak dunia tetap menjadi penentu dibandingkan faktor domestik.
Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menambahkan bahwa jika data non-farm payrolls (NFP) AS menunjukkan hasil yang buruk, pasar akan memangkas ekspektasi pengetatan kebijakan The Fed. Kondisi ini berpotensi menekan indeks dolar AS dan membuka ruang apresiasi bagi rupiah.
Sebaliknya, jika data tenaga kerja AS dirilis lebih kuat dari perkiraan, dolar AS berisiko kembali menguat. Fenomena ini dapat menekan mata uang di pasar negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia.
Likuiditas pasar yang tipis akibat libur Labor Day di AS juga diprediksi akan memengaruhi pergerakan rupiah. Kondisi tersebut berpotensi memperlebar rentang pergerakan intraday rupiah di pasar Asia pada Senin (7/9).
Di sektor domestik, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$146 miliar menjadi bantalan stabilitas. Operasi pasar yang dilakukan Bank Indonesia juga dinilai mampu menahan gejolak nilai tukar.
Namun, risiko eksternal seperti kenaikan harga minyak Brent dan dinamika geopolitik di Timur Tengah tetap perlu diwaspadai. Faktor-faktor ini dapat membatasi ruang penguatan mata uang domestik dalam jangka pendek.
Syafruddin memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.590 hingga Rp 17.730 per dolar AS pada awal pekan ini. Jika data ekonomi AS jauh lebih lemah dari perkiraan, rupiah memiliki potensi untuk menguji level Rp 17.540.
Sementara itu, Rizal memperkirakan rupiah akan berada pada rentang Rp 17.580 hingga Rp 17.720 per dolar AS. Jika sentimen global mendukung, rupiah berpeluang menguji kisaran Rp 17.550.
Namun, jika data ekonomi AS kembali melonjak, rupiah berisiko melemah ke area Rp 17.700 hingga Rp 17.750 per dolar AS. Pasar akan terus memantau rilis data tenaga kerja tersebut sebagai katalis utama pergerakan pasar keuangan pekan ini.






