JAKARTA – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih akan berada di bawah tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (14/9/2026). Sentimen utama pelemahan mata uang Garuda dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah serta lonjakan harga minyak mentah dunia.
Data Bloomberg mencatat, pada penutupan perdagangan Jumat (11/9), rupiah melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS. Bahkan, mata uang domestik sempat terdepresiasi hingga 80 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.547 per dolar AS.
Kondisi serupa terlihat pada kurs JISDOR Bank Indonesia yang mencatat pelemahan 0,43% ke level Rp17.611 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi seiring dengan penguatan indeks dolar AS di pasar global.
Tekanan terhadap mata uang dipicu oleh konflik yang memanas di Selat Hormuz dan serangan kelompok Houthi di Selat Bab el-Mandeb. Gangguan di jalur logistik strategis tersebut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Akibat ketegangan tersebut, harga minyak mentah dunia dilaporkan menembus level psikologis US$100 per barel. Lonjakan harga ini menjadi tantangan berat bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak (net importer).
Kenaikan harga minyak berisiko membengkakkan beban subsidi energi dalam APBN. Selain itu, kebutuhan valuta asing untuk membiayai impor minyak akan meningkat, yang pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah.
Proyeksi beban fiskal ini sejalan dengan data dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Subsidi energi diproyeksikan mencapai Rp272 triliun, meningkat 20,1 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Faktor eksternal lainnya adalah data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat bulan Agustus yang naik 5,4% secara tahunan. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan lebih lama guna meredam inflasi.
Di sisi lain, Indonesia masih memiliki harapan dari kenaikan harga komoditas unggulan ekspor. Harga minyak sawit mentah (CPO) tercatat sempat menyentuh level tertinggi dalam 20 bulan terakhir, sementara harga emas global juga menunjukkan tren penguatan.
Namun, pengamat pasar menilai tambahan penerimaan dari ekspor komoditas tersebut belum cukup untuk menutupi kenaikan biaya impor energi. Beban subsidi yang membengkak menciptakan dilema bagi stabilitas fiskal dan moneter nasional.
Pemerintah kini dihadapkan pada tantangan berat dalam menjaga keberlanjutan fiskal di tengah volatilitas harga energi global. Beban subsidi yang tidak rasional dinilai menjadi hambatan utama dalam menjaga kesehatan anggaran negara.
Untuk perdagangan Senin (14/9), rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Rentang pergerakan mata uang diperkirakan berada di kisaran Rp17.610 hingga Rp17.650 per dolar AS.






