Valuta

Rupiah Masih Melemah, Ekonom Prediksi Penguatan Berjalan Tidak Mulus

78
×

Rupiah Masih Melemah, Ekonom Prediksi Penguatan Berjalan Tidak Mulus

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di pasar spot
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah ke level Rp17.611 pada perdagangan Jumat.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih memiliki ruang untuk menguat hingga akhir tahun 2026. Namun, laju penguatan mata uang Garuda diperkirakan akan berjalan fluktuatif dan tidak linier akibat tren pelemahan dolar AS yang belum menunjukkan konsistensi.

Data pasar spot menunjukkan rupiah ditutup pada level Rp17.611 per dolar AS pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Angka ini mencatatkan pelemahan harian sebesar 64 poin atau 0,36 persen dibandingkan penutupan sehari sebelumnya.

Secara mingguan, posisi rupiah sebenarnya masih menunjukkan catatan positif. Mata uang domestik ini menguat 31 poin atau 0,18 persen dibandingkan level Rp17.642 per dolar AS pada Jumat pekan sebelumnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau berada di level 99,122 per Jumat (11/9/2026). Indeks tersebut mengalami kenaikan harian sebesar 0,07 persen, meskipun secara mingguan masih terkoreksi tipis sebesar 0,05 persen.

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy, menilai penguatan rupiah dari level di atas Rp18.200 pada pertengahan tahun ini memang cukup signifikan. Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa hal tersebut belum menjadi jaminan bagi tren penguatan jangka panjang yang berkelanjutan.

“Ruang untuk melanjutkan penguatan sampai akhir tahun tampaknya masih terbatas. Pergerakannya tidak akan linier,” ujar Yusuf, Jumat (11/9/2026).

Menurut analisis Yusuf, pelemahan dolar AS saat ini hanya mencerminkan penyesuaian jangka pendek. Pasar saat ini masih menantikan rilis data inflasi serta keputusan kebijakan moneter terbaru dari bank sentral AS, The Fed.

Selain itu, DXY masih dinilai relatif kuat di pasar global. Imbal hasil surat utang pemerintah AS juga belum menunjukkan penurunan yang meyakinkan untuk menekan dolar lebih dalam.

Faktor eksternal lainnya, yakni harga minyak dunia yang masih bertahan di level tinggi, menjadi tantangan bagi stabilitas rupiah. Tingginya harga energi berpotensi menekan neraca perdagangan Indonesia ke arah yang kurang menguntungkan.

Kebutuhan akan dolar AS di dalam negeri juga terpantau masih cukup besar. Hal ini dipicu oleh kondisi defisit transaksi berjalan yang tercatat telah melampaui angka 3 persen terhadap PDB pada kuartal II/2026.

Meski menghadapi berbagai tekanan, rupiah masih memiliki peluang untuk menguat jika sentimen global membaik. Skenario ini bergantung pada pelemahan dolar AS yang lebih dalam serta penurunan harga minyak dunia.

Arus modal masuk atau capital inflow yang konsisten juga menjadi kunci bagi penguatan mata uang Garuda. Jika sentimen global mendukung, penguatan beberapa ratus poin dari level saat ini dinilai masih berada dalam rentang yang realistis.

Namun, Yusuf memprediksi rupiah akan sulit kembali ke level Rp16.500 per dolar AS sebagaimana asumsi awal dalam APBN. Untuk akhir tahun 2026, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.750 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Rupiah hanya berpeluang bergerak di bawah level Rp17.500 dengan syarat tertentu. Kondisi tersebut bisa tercapai jika dolar AS melemah secara signifikan, harga minyak turun drastis, dan arus modal masuk berlangsung stabil.