JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan awal pekan pada Senin (14/9/2026) dengan penguatan tipis. Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda dibuka di level Rp17.608 per dolar AS, atau menguat 3 poin (0,02%) dibandingkan penutupan sebelumnya.
Hingga pukul 09.10 WIB, mata uang domestik masih mempertahankan posisi di level Rp17.607 per dolar AS. Pergerakan ini terjadi setelah rupiah sempat mengalami tekanan pada akhir pekan lalu dengan ditutup melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS pada Jumat (11/9/2026).
Meski dibuka menguat, para analis memproyeksikan rupiah akan kembali berada dalam tekanan sepanjang perdagangan hari ini. Sentimen utama yang membayangi pasar adalah rilis data inflasi AS yang tercatat lebih kuat dari ekspektasi pasar.
Data inflasi yang tinggi tersebut memicu kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS. Kondisi ini secara otomatis meningkatkan daya tarik aset dolar AS, sehingga memberikan tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor domestik dan kebijakan moneter AS, pasar juga merespons lonjakan harga minyak mentah dunia. Saat ini, harga minyak telah menembus level psikologis US$100 per barel.
Kenaikan harga komoditas energi ini menjadi sentimen negatif bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Tingginya harga minyak dunia memicu kekhawatiran terhadap peningkatan inflasi global serta beban fiskal negara.
Sentimen harga minyak juga diperburuk oleh ketegangan geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah. Investor kini mencermati risiko gangguan pasokan energi global akibat konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut.
Di sisi lain, pelaku pasar mulai mengantisipasi langkah agresif dari bank sentral AS, The Fed, pada pertemuan pekan depan. Mayoritas ekonom memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga secara signifikan untuk meredam laju inflasi.
Proyeksi kenaikan suku bunga ini menjadi katalis utama yang membuat investor bersikap lebih berhati-hati. Ketidakpastian arah kebijakan moneter global ini diperkirakan akan terus menjaga volatilitas di pasar keuangan dalam negeri.
Berdasarkan analisis teknikal dan sentimen pasar, rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif sepanjang hari ini. Nilai tukar rupiah diperkirakan berada dalam rentang pergerakan antara Rp17.550 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Secara fundamental, rupiah memang tengah menghadapi tantangan berat dari kombinasi gejolak harga komoditas dan kebijakan suku bunga global. Namun, arus modal asing yang masih mencatatkan net buy di pasar saham diharapkan dapat menjadi penopang stabilitas rupiah di tengah guncangan eksternal.
Para pelaku pasar kini terus memantau setiap indikator ekonomi terbaru dari AS. Data pasar tenaga kerja dan perkembangan inflasi akan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang dalam jangka pendek.





