Energi

Pertamina Geothermal Siapkan Pasokan Listrik Panas Bumi untuk Green Data Center

55
×

Pertamina Geothermal Siapkan Pasokan Listrik Panas Bumi untuk Green Data Center

Sebarkan artikel ini
Pembangkit listrik panas bumi PT Pertamina Geothermal Energy Tbk untuk pasokan energi bersih data center.
PT Pertamina Geothermal Energy Tbk mengintegrasikan pasokan listrik panas bumi untuk mendukung pengembangan green data center di Indonesia.

JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) secara resmi mengintegrasikan pasokan listrik baseload dari energi panas bumi untuk mendukung pengembangan ekosistem kecerdasan buatan (AI) dan green data center di Indonesia. Langkah strategis ini merupakan bagian dari inisiatif Beyond Electricity perusahaan guna memperluas pemanfaatan energi bersih di luar sektor pembangkitan listrik konvensional.

Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menyatakan bahwa kebutuhan pusat data dan pabrik AI memerlukan pasokan listrik yang stabil selama 24 jam dengan emisi karbon yang rendah. Panas bumi dinilai sebagai sumber energi domestik yang paling andal untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena kemampuannya beroperasi secara berkelanjutan sebagai baseload.

“Panas bumi merupakan energi domestik yang bersih dan mampu beroperasi sebagai baseload sepanjang waktu. Hal ini menjadikannya sangat cocok sebagai tulang punggung green data center di Indonesia,” ujar Ahmad dalam keterangan resmi yang dirilis pada Senin, 7 September 2026.

Sebagai langkah awal implementasi, PGEO telah memulai kajian pengembangan elektrifikasi pusat data berbasis panas bumi di Area Kamojang, Jawa Barat. Proyek ini diposisikan sebagai pilot project sekaligus proof of concept untuk menguji model bisnis, kebutuhan calon pengguna, serta tingkat kesiapan pasar.

Strategi Beyond Electricity PGEO tidak hanya terbatas pada pengembangan pusat data hijau. Perusahaan juga mencakup pengembangan hidrogen hijau (green hydrogen), pemanfaatan langsung uap panas bumi, serta penyediaan layanan teknologi dan laboratorium pendukung.

Dalam upaya mempercepat pengembangan infrastruktur ini, PGEO menekankan pentingnya dukungan kebijakan dari pemerintah. Perusahaan menyoroti perlunya penyempurnaan regulasi tarif agar lebih kompetitif dan transparan di pasar.

Selain itu, PGEO juga mengharapkan adanya perluasan insentif fiskal dan akses ke pembiayaan hijau (green financing). Sinkronisasi antara Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), jaringan transmisi, serta Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA) menjadi kunci utama untuk mencapai target operasional.

Dari sisi kapasitas, PGEO terus menggenjot target pertumbuhan kapasitas terpasang secara bertahap. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028 dan meningkat hingga 1,8 GW pada 2034.

Target ambisius tersebut akan ditopang oleh portofolio sumber daya panas bumi yang dimiliki PGEO dengan estimasi potensi mencapai 3 GW. Ekspansi ini sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung transisi energi nasional melalui optimalisasi energi bersih.

Langkah ini juga selaras dengan sinergi yang tengah dibangun PGEO dengan PT PLN Indonesia Power (PLN IP). Kedua entitas sebelumnya telah menyepakati pembelian listrik dari proyek panas bumi sebesar 45 megawatt (MW) di Lampung dan Sulawesi Utara untuk memperkuat kemandirian energi nasional.

Upaya percepatan proyek panas bumi ini juga menjadi fokus utama perusahaan dalam ajang Indonesia International Geothermal Convention and Exhibition (IIGCE) 2026. Melalui kolaborasi tersebut, PGEO berupaya memperkuat perannya dalam ekosistem energi baru terbarukan di Indonesia.