Energi

Strategi Diversifikasi PTBA: Targetkan 20% Pendapatan dari Bisnis Non-Batubara

73
×

Strategi Diversifikasi PTBA: Targetkan 20% Pendapatan dari Bisnis Non-Batubara

Sebarkan artikel ini
Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk PTBA, Turino Yulianto, memaparkan strategi diversifikasi bisnis perusahaan.
PTBA menargetkan kontribusi pendapatan dari sektor non-batubara mencapai 20 persen dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

JAKARTA – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kini mempercepat langkah diversifikasi bisnis ke sektor non-batubara untuk memperkuat struktur pendapatan perusahaan. Emiten pertambangan pelat merah ini menargetkan kontribusi sektor di luar batubara dan produk turunannya dapat mencapai 20% dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan.

Direktur Hilirisasi dan Diversifikasi Produk Bukit Asam, Turino Yulianto, mengungkapkan bahwa perusahaan tengah menjalankan sejumlah proyek strategis untuk mencapai target tersebut. Fokus pengembangan mencakup hilirisasi batubara menjadi dimethyl ether (DME), metanol, synthetic natural gas (SNG), kalium humat, hingga artificial graphite.

Selain hilirisasi, PTBA juga merambah sektor energi terbarukan melalui pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Hingga saat ini, portofolio PLTS PTBA telah mencapai 1,2 megawatt (MW) yang dikembangkan bersama PT Pertamina New and Renewable Energy dengan memanfaatkan lahan pascatambang yang telah direklamasi.

Proyek hilirisasi batubara menjadi DME saat ini menjadi agenda utama perusahaan. PTBA bersama mitra strategis tengah merampungkan studi kelayakan komprehensif dari sektor hulu hingga hilir. Proyek strategis nasional ini dijadwalkan memasuki tahap konstruksi pada tahun 2027 mendatang.

Meski diversifikasi terus digenjot, manajemen menegaskan bahwa batubara tetap menjadi mesin utama laba perusahaan. Pengembangan bisnis baru tetap diarahkan pada kompetensi inti PTBA di sektor batubara dan produk turunannya.

Ketergantungan terhadap komoditas batubara tercermin dalam kinerja keuangan semester I-2026. Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp22,03 triliun, tumbuh 8% secara tahunan, dengan volume produksi mencapai 19,45 juta ton dan penjualan sebesar 21,10 juta ton.

Pertumbuhan pendapatan tersebut berkontribusi signifikan terhadap laba bersih perusahaan yang melonjak 218% secara tahunan menjadi Rp2,65 triliun. Capaian ini menunjukkan efisiensi operasional yang terjaga di tengah fluktuasi harga komoditas global.

Analis dari Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, menilai bahwa kinerja PTBA pada periode 2026-2027 masih akan sangat bergantung pada volume penjualan dan harga batubara. Selain itu, bauran penjualan dan efisiensi logistik menjadi variabel penentu utama profitabilitas perusahaan dalam jangka pendek.

Pengembangan infrastruktur logistik menjadi salah satu katalis positif bagi kinerja perusahaan ke depan. Proyek Tanjung Enim-Kramasan dengan kapasitas 20 juta ton per tahun serta ekspansi kapasitas Kertapati dari 8 juta ton menjadi 15,3 juta ton per tahun diyakini mampu meningkatkan volume penjualan sekaligus menekan biaya operasional.

Sejalan dengan prospek tersebut, Kiwoom Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PTBA. Target harga saham dinaikkan menjadi Rp3.320 per saham dari sebelumnya Rp3.260 per saham.

Di sisi lain, PTBA juga terus memperkuat transformasi tata kelola perusahaan melalui integrasi sistem 1MINDERP SAP. Sistem ini mencakup berbagai lini bisnis, mulai dari keuangan, pengadaan, penjualan, hingga operasional tambang untuk meningkatkan efisiensi perusahaan secara menyeluruh.

Langkah ini diambil di tengah dinamika pasar global, di mana harga minyak dunia kini kembali mendekati level US$100 per barel akibat memanasnya konflik di Timur Tengah. Kondisi makroekonomi ini menuntut perusahaan untuk lebih tangguh dalam mengelola efisiensi biaya di setiap lini operasionalnya.