Ekonomi

Airlangga Hartarto Dorong Ekonomi Hijau untuk Pacu Pertumbuhan Ekonomi Nasional

39
×

Airlangga Hartarto Dorong Ekonomi Hijau untuk Pacu Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Sebarkan artikel ini
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keterangan terkait pengembangan ekonomi hijau.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional melalui pengembangan sektor ekonomi hijau.

JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan tambahan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 2-3 persen melalui pengembangan ekonomi hijau secara masif. Optimisme tersebut didorong oleh masuknya investasi serta peningkatan aktivitas ekonomi berbasis energi bersih di dalam negeri.

Pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,45 persen pada semester I 2026. Dengan akselerasi di sektor hijau, pemerintah membidik angka pertumbuhan mendekati 6 persen hingga akhir tahun 2026.

Airlangga menjelaskan bahwa ekonomi hijau bukan sekadar isu lingkungan, melainkan mesin pertumbuhan baru. Sektor ini diproyeksikan mampu menyerap tenaga kerja terampil hingga 5,3 juta orang pada 2029.

Data dari Peta Jalan Pengembangan Tenaga Kerja Hijau Kementerian PPN/Bappenas mendukung proyeksi tersebut. Jumlah tenaga kerja di sektor ini diperkirakan naik signifikan dari 4 juta orang pada 2025 menjadi 5,3 juta pada 2029.

Kekuatan utama Indonesia terletak pada cadangan mineral kritis yang melimpah. Airlangga menegaskan pentingnya hilirisasi agar nilai tambah pengolahan mineral tetap berada di dalam negeri.

Hilirisasi sektor kendaraan listrik menjadi prioritas utama pemerintah. Sektor ini dinilai mampu memberikan nilai tambah hingga 60 kali lipat dibandingkan ekspor bahan mentah.

Indonesia kini diposisikan sebagai pemain kunci dalam rantai pasok transisi energi global. Sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat, Kanada, dan Uni Eropa telah menunjukkan minat untuk menjalin kerja sama strategis.

Selain mineral kritis, Indonesia memiliki cadangan pasir silika yang besar. Komoditas ini menjadi modal penting untuk mengembangkan industri panel surya dengan kapasitas produksi mencapai 111 gigawatt per tahun.

Namun, industri panel surya domestik menghadapi tantangan hambatan perdagangan internasional. Pemerintah Amerika Serikat pada September 2026 menetapkan bea antidumping dan bea imbalan dengan akumulasi tarif mencapai lebih dari 100 persen.

Hambatan serupa juga dialami oleh produk baja tahan karat atau stainless steel. Produk Indonesia dikenakan tarif masuk sebesar 50 persen di pasar Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Inggris.

Meski demikian, Airlangga tetap optimistis Indonesia mampu bersaing di pasar global. Ia menekankan bahwa daya saing domestik akan tetap terjaga jika penerapan tarif internasional dilakukan secara adil dan setara.

Pengembangan ekonomi hijau juga terintegrasi erat dengan transformasi ekonomi digital. Energi bersih menjadi prasyarat mutlak bagi pembangunan infrastruktur pusat data di Indonesia.

Nilai transaksi bruto ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai US$100 miliar pada 2025. Pertumbuhan ini diharapkan terus berlanjut melalui implementasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di kawasan ASEAN.

Strategi ini berjalan beriringan dengan kebijakan fiskal yang tetap disiplin. Menteri Keuangan Suahasil Nazara memastikan bahwa defisit APBN akan terus dijaga di bawah 3 persen dari PDB guna menjaga kredibilitas keuangan negara.

Sektor perbankan turut mendukung transisi ini, dengan kredit hijau BCA tercatat tumbuh 19 persen pada semester I 2026. Sementara itu, BNI memproyeksikan penyaluran kredit secara keseluruhan tumbuh di kisaran 8 hingga 10 persen pada tahun 2026.