Ekonomi

Bahlil Tawarkan Proyek Pembangunan Data Center dengan Tarif Listrik Kompetitif

123
×

Bahlil Tawarkan Proyek Pembangunan Data Center dengan Tarif Listrik Kompetitif

Sebarkan artikel ini
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan pemaparan dalam acara Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menawarkan peluang investasi pembangunan data center dengan tarif listrik kompetitif di ajang Electricity Connect 2026.

TANGERANG – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia secara resmi menawarkan peluang investasi besar bagi pembangunan pusat data (data center) di Indonesia. Penawaran ini didorong oleh keunggulan kompetitif harga energi serta ketersediaan sumber daya listrik yang melimpah di tanah air.

Bahlil menyampaikan komitmen pemerintah untuk mempermudah perizinan bagi calon investor yang ingin menanamkan modalnya di sektor infrastruktur digital tersebut. Hal ini disampaikan dalam ajang Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9).

Menurut Bahlil, investor tidak perlu khawatir mengenai pasokan listrik untuk mendukung operasional pusat data. PT PLN (Persero) telah dipersiapkan untuk menyediakan kapasitas daya yang dibutuhkan sesuai dengan permintaan pasar.

Indonesia memiliki keunggulan geografis dengan wilayah luas yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau. Keberagaman sumber energi, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga angin, diklaim mampu menghasilkan biaya produksi listrik yang jauh lebih murah dibandingkan negara lain.

Pemerintah juga mulai memetakan potensi ekspor listrik ke negara tetangga sebagai bagian dari strategi ekonomi nasional. Namun, Bahlil menegaskan bahwa setiap kerja sama harus didasarkan pada prinsip yang saling menguntungkan dan tidak boleh menekan kedaulatan ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, industri pusat data di Indonesia kini tengah berada dalam periode pertumbuhan yang sangat pesat. Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), Hendra Suryakusuma, memproyeksikan kebutuhan kapasitas pusat data di Indonesia dapat menembus angka 11 gigawatt (GW).

Lonjakan kebutuhan komputasi, layanan cloud, dan kecerdasan buatan (AI) menjadi pemicu utama masifnya pembangunan infrastruktur digital ini. Sejumlah konglomerat besar, seperti kelompok usaha Widjaja, Salim, hingga The Ning King, mulai terlibat aktif dalam pengembangan kawasan industri yang ramah bagi pusat data.

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) juga terpantau terus menggenjot ekspansi kapasitas pusat data mereka di Cikarang, Jawa Barat, dan Batam. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi permintaan komputasi yang terus meningkat di pasar domestik maupun regional.

Untuk mendukung transisi energi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) kini tengah menyiapkan pasokan listrik baseload dari panas bumi. Langkah ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan green data center yang menuntut operasional berbasis energi bersih.

Besarnya kebutuhan energi ini mendorong pemerintah untuk terus memperkuat infrastruktur kelistrikan nasional. Bahlil bahkan telah mengusulkan kenaikan subsidi listrik dalam RAPBN 2027 menjadi Rp 117,84 triliun guna menjaga stabilitas harga dan kualitas layanan energi.

Di samping itu, sektor perbankan kini turut menjaga kualitas kredit seiring dengan meningkatnya arus pembiayaan untuk proyek-proyek pusat data. Kebutuhan pendanaan ini diproyeksikan akan terus tumbuh sejalan dengan ekspansi infrastruktur digital nasional hingga tahun 2030.