JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan signifikan sebesar 1,56% pada penutupan perdagangan Rabu (23/9/2026). Indeks berakhir naik 97,87 poin ke level 6.374,91.
Sentimen utama penguatan pasar saham domestik ini dipicu oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75%. Keputusan tersebut dinilai memberikan kepastian bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Analis pasar modal menyatakan bahwa keputusan BI tersebut sudah diantisipasi sebelumnya oleh para investor. Kondisi ini membuat pasar merespons positif karena kebijakan moneter yang stabil dianggap mampu menjaga iklim investasi domestik.
Pergerakan bursa saham dalam negeri juga searah dengan tren positif di bursa regional Asia. Selain itu, penguatan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat turut memberikan dorongan tambahan bagi indeks untuk tetap berada di zona hijau.
Meskipun ditutup menguat, arus modal asing masih menunjukkan tren yang perlu diwaspadai. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp408 miliar pada perdagangan hari ini.
Data year to date menunjukkan total net sell asing di pasar reguler telah mencapai angka Rp102,9 triliun. Kondisi ini menjadi indikator penting bagi investor dalam mencermati keberlanjutan tren penguatan IHSG ke depan.
Terkait proyeksi perdagangan Kamis (24/9), analis memprediksi adanya potensi koreksi terbatas pada indeks. Aksi profit taking atau pengambilan keuntungan oleh investor berpeluang terjadi setelah kenaikan tajam yang dialami pada Rabu ini.
Pergerakan IHSG pada Kamis diperkirakan akan berada pada area support 6.355 dan resistance 6.387. Sentimen pasar akan terus dipantau berdasarkan stabilitas nilai tukar Rupiah dan sentimen global yang berlaku.
Di sisi lain, terdapat pandangan yang menyebutkan bahwa IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan technical rebound. Level resistance jangka pendek dipatok pada angka 6.463.
Jika level tersebut mampu ditembus dengan dukungan volume perdagangan yang kuat, IHSG berpotensi menuju level 6.586. Sebaliknya, jika gagal melewati batas tersebut, indeks berisiko kembali berkonsolidasi.
Zona konsolidasi berikutnya diperkirakan akan berada pada area 6.000 hingga 6.035. Ketahanan pasar terhadap tekanan jual akan sangat bergantung pada perbaikan breadth atau keluasan partisipasi saham-saham di pasar.
Secara keseluruhan, stabilitas kebijakan moneter tetap menjadi jangkar utama pergerakan pasar saham nasional. Investor disarankan untuk tetap memperhatikan arus dana asing dan dinamika ekonomi regional sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi.






