Valuta

Rupiah Menguat Sepekan, Simak Proyeksi Nilai Tukar untuk Pekan Depan

44
×

Rupiah Menguat Sepekan, Simak Proyeksi Nilai Tukar untuk Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS di layar monitor perdagangan
Nilai tukar Rupiah mencatatkan penguatan sepanjang pekan ini hingga ditutup di level Rp 17.642 per dolar AS.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan sepanjang pekan ini, didorong oleh meredanya spekulasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat serta masuknya arus modal asing ke pasar domestik. Mata uang Garuda tercatat menguat 0,21% atau 37 poin ke level Rp 17.642 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (4/9).

Secara mingguan, rupiah mencatatkan apresiasi sebesar 0,28% dibandingkan posisi penutupan pekan sebelumnya di level Rp 17.692 per dolar AS. Penguatan serupa juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang berakhir di level Rp 17.636 per dolar AS pada hari yang sama.

Data JISDOR menunjukkan rupiah menguat 0,38% secara mingguan dari posisi Rp 17.703 per dolar AS. Dinamika ini dipengaruhi oleh kombinasi kebijakan moneter global dan stabilitas fundamental ekonomi dalam negeri.

Sentimen pasar global utamanya dipicu oleh pernyataan Gubernur The Fed, Christopher Waller, yang memberi sinyal kemungkinan mempertahankan suku bunga jika inflasi terus melandai. Sinyal tersebut menekan posisi dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk melakukan konsolidasi.

Dari sisi domestik, kepastian transisi kepemimpinan di Bank Indonesia turut memberikan sentimen positif bagi para pelaku pasar. Pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI untuk periode 2026–2031 dinilai memperkuat komitmen terhadap independensi dan stabilitas nilai tukar.

Ketahanan ekonomi domestik juga tercermin dari angka cadangan devisa yang meningkat menjadi US$ 146 miliar pada Agustus. Meski inflasi tahunan sempat menyentuh 3,19% dan indeks PMI manufaktur berada di zona kontraksi pada level 49,8, arus modal asing tetap memberikan dukungan bagi aset-aset di Indonesia.

Namun, penguatan mata uang sempat dibayangi oleh tantangan eksternal seperti eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi imbal hasil US Treasury. Kondisi tersebut sempat memicu kenaikan harga minyak global yang memberikan tekanan tambahan pada pasar keuangan.

Memasuki pekan depan, pelaku pasar kini mencermati rilis data tenaga kerja Amerika Serikat, yakni Non-Farm Payrolls, serta perkembangan data inflasi AS. Data tersebut diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed selanjutnya.

Para analis memperkirakan rupiah akan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat terbatas pada pekan mendatang. Proyeksi rentang pergerakan rupiah diprediksi berada pada kisaran Rp 17.500 hingga Rp 17.850 per dolar AS.

Stabilitas nilai tukar ke depan akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data ekonomi global serta kemampuan domestik dalam menjaga surplus neraca perdagangan. Kebutuhan valas di dalam negeri masih menjadi perhatian utama seiring dengan laju pertumbuhan impor yang cukup signifikan.