Bursa Saham

Tekanan Jual Masif, Saham GOTO Berisiko Anjlok ke Level Rp 1

65
×

Tekanan Jual Masif, Saham GOTO Berisiko Anjlok ke Level Rp 1

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga saham GOTO di layar monitor bursa efek
Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk mengalami tekanan jual masif setelah kebijakan perubahan batas harga minimum saham.

JAKARTA – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terus mengalami tekanan jual masif yang memicu penurunan harga hingga menyentuh batas auto rejection bawah (ARB). Kondisi ini terjadi pasca kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menghapus batas harga minimum saham Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026.

Hingga perdagangan Rabu (30/9/2026), saham GOTO berada dalam tren pelemahan berkelanjutan. Analis pasar modal memproyeksikan harga saham emiten teknologi ini berisiko terus merosot hingga menguji level Rp27, bahkan secara mekanis berpotensi menyentuh level terendah di Rp1 jika tekanan jual tidak mereda.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyatakan bahwa fenomena ini dipicu oleh ketidakseimbangan ekstrem antara pasokan dan permintaan di pasar. Antrean jual yang tebal tidak dibarengi dengan volume transaksi yang memadai.

Data perdagangan menunjukkan bahwa pada hari pertama pemberlakuan aturan baru, antrean jual GOTO mencapai sekitar 1 miliar lot. Namun, hanya sekitar 1,2 juta lot yang berhasil berpindah tangan pada harga ARB Rp43.

Kondisi serupa berlanjut pada hari kedua dengan antrean jual mencapai 842 juta lot. Sementara itu, transaksi yang terealisasi hanya menyentuh 1,8 juta lot pada harga Rp37, yang mencerminkan serapan pasar yang sangat minim.

Secara matematis, jika volume penyerapan tidak meningkat, dibutuhkan waktu hingga 468 hari bursa bagi seluruh antrean jual tersebut untuk terserap sepenuhnya. Hal ini menegaskan bahwa masalah utama yang dihadapi GOTO saat ini adalah ketimpangan supply-demand yang sangat dalam.

Meskipun perhitungan tersebut bersifat mekanis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perilaku investor, realitas di lapangan menunjukkan beban berat bagi pemegang saham. Investor yang memiliki kepemilikan dalam jumlah besar berisiko kesulitan melepas aset mereka di pasar.

Jika tren ARB terus berlanjut setiap hari, harga saham GOTO secara teoritis dapat mencapai level Rp1 dalam waktu sekitar 19 hari bursa. Periode ini setara dengan empat minggu perdagangan, atau diprediksi terjadi pada akhir Oktober 2026.

Untuk mencapai harga Rp27 dari posisi saat ini, hanya dibutuhkan sekitar dua hari perdagangan dengan status ARB. Kondisi ini menempatkan investor, termasuk institusi, dalam posisi yang rentan terhadap kerugian yang lebih dalam.

Liza menyoroti bahwa sebelum aturan batas bawah Rp50 dihapus, harga saham masih tertahan di level tersebut. Namun, saat floor price dibuka, harga kini terancam jatuh ke titik terendah karena minimnya pembeli yang bersedia masuk.

Investor yang sebelumnya melakukan pembelian spekulatif di harga Rp25 kini menghadapi kesulitan likuiditas. Mereka terjebak dalam antrean jual yang terus membesar, membuat upaya keluar dari posisi investasi menjadi sangat menantang.

Total antrean jual pada perdagangan terbaru terpantau mencapai 957,21 juta lot dengan valuasi mencapai Rp6,89 triliun. Angka ini menjadi indikator besarnya tekanan jual yang membayangi pergerakan saham GOTO di Bursa Efek Indonesia dalam jangka pendek.