Bursa Saham

Prospek Saham JSMR di Tengah Rencana Akuisisi Ruas Tol BUMN

93
×

Prospek Saham JSMR di Tengah Rencana Akuisisi Ruas Tol BUMN

Sebarkan artikel ini
Papan penunjuk jalan tol Jasa Marga dengan latar belakang lalu lintas kendaraan
Jasa Marga tengah mengevaluasi potensi akuisisi sejumlah ruas jalan tol milik BUMN Karya untuk memperkuat kinerja bisnis.

JAKARTA – PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) diproyeksikan mencatatkan kinerja positif hingga akhir 2026 yang didorong oleh pertumbuhan bisnis inti jalan tol serta peluang ekspansi strategis. Perseroan saat ini tengah menjajaki potensi akuisisi sejumlah ruas jalan tol yang dikelola oleh BUMN Karya.

Rencana divestasi aset dari perusahaan konstruksi pelat merah seperti PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), dan PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk (PTPP) menjadi objek evaluasi utama Jasa Marga. Manajemen menyatakan akan selektif dalam memilih ruas tol dengan target Internal Rate of Return (IRR) atas ekuitas sebesar 13% hingga 15%.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai akuisisi aset brownfield yang sudah beroperasi memberikan kontribusi pendapatan dan EBITDA lebih cepat bagi perusahaan. Namun, ia menekankan pentingnya selektivitas terhadap valuasi aset, struktur pendanaan, dan potensi trafik sebelum keputusan akuisisi diambil.

Di sisi lain, analis Maybank Sekuritas Indonesia, Etta Rusdiana Putra, mencatat bahwa Jasa Marga saat ini masih memprioritaskan pengembangan lima proyek berjalan dengan alokasi belanja modal (capex) mencapai Rp10 triliun hingga Rp12 triliun. Proses uji tuntas (due diligence) terhadap sekitar 15 ruas tol potensial milik BUMN Karya masih terus berjalan.

Kinerja keuangan Jasa Marga didukung oleh pertumbuhan volume lalu lintas, penyesuaian tarif tol, dan peningkatan utilisasi ruas jalan tol yang telah beroperasi. Selain itu, progres pembangunan proyek jalan tol baru yang ditargetkan beroperasi secara bertahap hingga akhir 2026 menjadi katalis tambahan bagi pendapatan perseroan.

Dari sisi pendanaan, penerbitan obligasi senilai Rp2,06 triliun memberikan fleksibilitas keuangan bagi perusahaan. Peningkatan kepemilikan saham di PT Trans Lingkar Kita Jaya (TLKJ) menjadi 21,29% juga diproyeksikan akan memberikan kontribusi positif terhadap perolehan laba bersih perseroan ke depan.

Data keuangan menunjukkan saldo kas Jasa Marga tumbuh 11% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp7,08 triliun. Sementara itu, total liabilitas tercatat meningkat 15% YoY menjadi Rp99,98 triliun, yang mencerminkan kebutuhan pendanaan untuk mendukung ekspansi dan operasional anak usaha.

Meskipun leverage perusahaan mengalami kenaikan, kemampuan Jasa Marga dalam memenuhi kewajiban utang dinilai masih berada pada level yang dapat dikelola. Investor tetap disarankan mencermati risiko seperti potensi kenaikan beban bunga, perlambatan trafik, serta fluktuasi biaya konstruksi.

Secara fundamental, pendapatan Jasa Marga pada 2026 diperkirakan mencapai Rp30,31 triliun atau tumbuh 1,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan diproyeksikan menyentuh angka Rp3,75 triliun, meningkat sekitar 2,4% secara tahunan.

Terkait prospek saham, sejumlah analis memberikan rekomendasi bervariasi. Kiwoom Sekuritas Indonesia menetapkan target harga Rp3.800 per saham, Maybank Sekuritas menargetkan Rp4.500 per saham, dan Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan target harga Rp3.240 per saham.