JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan depresiasi pada pembukaan perdagangan Rabu (16/9/2026). Hingga pukul 09.11 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp17.735 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,23 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang bertengger di angka Rp17.694 per dolar AS.
Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah tren koreksi yang menimpa mayoritas mata uang di kawasan Asia pada perdagangan pagi ini. Tekanan terhadap mata uang regional dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang mencerminkan nilai tukar dolar terhadap mata uang utama dunia.
Indeks dolar AS tercatat berada di level 99,72 pada Rabu pagi. Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan posisi pada hari sebelumnya yang berada di level 99,61.
Won Korea menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pagi ini dengan koreksi sebesar 0,44 persen. Rupiah menyusul di posisi kedua dengan pelemahan 0,23 persen.
Selain rupiah dan won, sejumlah mata uang Asia lainnya juga turut tertekan oleh penguatan dolar AS. Yen Jepang melemah 0,15 persen, baht Thailand turun 0,04 persen, dan dolar Singapura terkoreksi 0,04 persen.
Dolar Taiwan dan yuan China juga mencatatkan pelemahan tipis masing-masing sebesar 0,02 persen dan 0,01 persen. Kondisi ini menunjukkan sentimen pasar yang cenderung menghindari aset berisiko di kawasan Asia.
Di sisi lain, terdapat beberapa mata uang Asia yang berhasil melawan arus dan menguat terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia tercatat menguat 0,25 persen, sementara peso Filipina naik 0,12 persen.
Dolar Hong Kong juga menunjukkan kinerja positif dengan penguatan sebesar 0,03 persen. Perbedaan performa ini mencerminkan dinamika pasar keuangan global yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan sentimen ekonomi masing-masing negara.
Sentimen pasar keuangan domestik juga terlihat kurang bergairah pada awal perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dilaporkan turut dibuka melemah seiring dengan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Beberapa saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks LQ45 mencatatkan penurunan signifikan. Saham BMRI, HRTA, dan MAPI menjadi jajaran top losers yang menekan laju indeks pada pembukaan sesi pertama.
Volatilitas nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.700 ini menjadi perhatian pelaku pasar. Investor kini memantau perkembangan data ekonomi global serta respons bank sentral terhadap fluktuasi mata uang yang terjadi.
Stabilitas rupiah ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh arus modal masuk dan keluar serta kebijakan suku bunga acuan. Pelaku pasar akan terus mencermati indikator ekonomi makro yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS dalam jangka pendek.





