Valuta

Menanti Keputusan The Fed, Rupiah Diprediksi Bergerak di Rp17.580–Rp17.680

65
×

Menanti Keputusan The Fed, Rupiah Diprediksi Bergerak di Rp17.580–Rp17.680

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor perdagangan
Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatif di kisaran Rp17.580–Rp17.680 menjelang rapat FOMC The Fed.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan, Senin (14/9/2026). Sentimen pasar global yang cenderung menahan posisi (wait and see) menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 September 2026 menjadi faktor utama penekan mata uang Garuda.

Berdasarkan data perdagangan Jumat (11/9), rupiah ditutup melemah 64 poin atau 0,36% ke level Rp17.611 per dolar AS. Sejalan dengan hal tersebut, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat pelemahan serupa ke posisi Rp17.611 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya.

Tekanan terhadap mata uang domestik dipicu oleh memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga minyak dunia hingga menembus US$100 per barel. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan peningkatan inflasi global serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Sentimen negatif tersebut turut berdampak pada pasar modal domestik, di mana investor asing terpantau melakukan aksi jual bersih. Ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh yang cenderung hawkish semakin memperkuat posisi dolar AS di pasar global.

Selain faktor eksternal, permintaan valuta asing dari badan usaha milik negara (BUMN) sektor energi untuk kebutuhan impor diprediksi akan memberikan tekanan tambahan pada awal pekan ini. Investor saat ini tengah mencermati data ekonomi penutup AS sebagai indikator utama arah suku bunga acuan.

Meski menghadapi tekanan berat, langkah stabilisasi dari Bank Indonesia diharapkan mampu meredam volatilitas pasar. Otoritas moneter diperkirakan akan mengoptimalkan instrumen operasi moneter seperti operasi pasar terbuka (OPT) valas dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Ketahanan cadangan devisa nasional yang berada di posisi solid sebesar US$146,5 miliar juga menjadi bantalan penting bagi rupiah. Langkah intervensi terukur dari Bank Indonesia dianggap krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak bergejolak terlalu jauh.

Dengan mempertimbangkan kombinasi sentimen global dan domestik, pergerakan rupiah pada awal pekan diproyeksikan berada dalam kisaran Rp17.580 hingga Rp17.680 per dolar AS. Fokus pelaku pasar tetap tertuju pada sinyal kebijakan moneter yang akan dikeluarkan oleh The Fed dalam pertemuan mendatang.

Dinamika pasar keuangan global saat ini sangat dipengaruhi oleh sikap pejabat The Fed yang masih terbelah mengenai prospek inflasi. Ketidakpastian ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam melakukan penempatan dana di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Kondisi ekonomi domestik yang sedang menanti rilis data inflasi dan data perdagangan turut membatasi ruang gerak penguatan rupiah. Pasar masih menunggu konfirmasi data resmi sebagai dasar pengambilan keputusan investasi jangka pendek.