Valuta

Rupiah Melemah ke Rp 17.622 per Dolar AS, Terlemah di Asia

22
×

Rupiah Melemah ke Rp 17.622 per Dolar AS, Terlemah di Asia

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang menunjukkan pelemahan di pasar spot.
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.622 per dolar AS pada perdagangan Jumat (11/9/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot mencatatkan pelemahan signifikan pada perdagangan tengah hari ini, Jumat (11/9/2026). Mata uang Garuda terdepresiasi ke level Rp 17.622 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,43% dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.547 per dolar AS. Dengan angka ini, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terlemah di kawasan Asia pada sesi perdagangan hari ini.

Hingga pukul 12.08 WIB, pergerakan mata uang di Asia terpantau variatif di tengah tekanan dolar AS. Rupee India menjadi mata uang yang mencatatkan pelemahan setelah rupiah, dengan koreksi sebesar 0,31%.

Dolar Taiwan turut mengalami tekanan dengan penurunan sebesar 0,29%. Sementara itu, peso Filipina mencatatkan depresiasi sebesar 0,27% terhadap dolar AS.

Ringgit Malaysia juga menunjukkan tren negatif dengan tergelincir 0,16%. Adapun baht Thailand mencatatkan pelemahan tipis sebesar 0,09% terhadap mata uang dolar AS atau yang sering disebut the greenback.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia lainnya justru mampu mencatatkan penguatan. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 0,35% hingga tengah hari ini.

Yen Jepang juga terpantau menguat dengan kenaikan sebesar 0,1%. Senada, yuan China mencatatkan apresiasi sebesar 0,07% terhadap dolar AS.

Dolar Singapura turut menguat tipis sebesar 0,02%. Sementara itu, dolar Hong Kong mencatatkan penguatan paling terbatas dengan kenaikan sebesar 0,003% pada sesi perdagangan siang ini.

Pelemahan rupiah yang cukup tajam ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan global yang mempengaruhi sentimen investor terhadap mata uang negara berkembang. Volatilitas di pasar mata uang regional Asia mencerminkan respon pasar terhadap kebijakan moneter global dan data ekonomi yang dirilis baru-baru ini.

Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati perkembangan kebijakan suku bunga dari bank sentral utama dunia yang turut memicu pergerakan dolar AS. Ketidakpastian ekonomi global seringkali menjadi faktor utama yang mendorong investor untuk kembali memburu aset aman atau safe haven, yang pada akhirnya menekan mata uang berisiko seperti rupiah.

Analis pasar menilai bahwa posisi rupiah di level Rp 17.622 memerlukan perhatian khusus dari otoritas moneter. Kestabilan nilai tukar menjadi fokus utama dalam menjaga daya beli masyarakat dan menjaga inflasi tetap terkendali di tengah tekanan eksternal.

Hingga penutupan sesi perdagangan sore nanti, pergerakan rupiah diprediksi masih akan dipengaruhi oleh sentimen pasar global. Investor masih terus memantau indikator ekonomi makro yang dapat memberikan arah bagi pergerakan mata uang regional ke depannya.