Industri

Kadin Dorong Efisiensi dan Teknologi di Industri Pertambangan Indonesia

25
×

Kadin Dorong Efisiensi dan Teknologi di Industri Pertambangan Indonesia

Sebarkan artikel ini
Suasana forum Energy Insights yang membahas transformasi teknologi dan efisiensi di industri pertambangan Indonesia.
Kadin Indonesia mendorong pelaku industri pertambangan untuk mempercepat adopsi teknologi guna meningkatkan efisiensi operasional.

JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pelaku industri pertambangan nasional untuk mempercepat adopsi teknologi dan meningkatkan efisiensi modal. Langkah ini dinilai krusial guna menjaga ketahanan bisnis di tengah tekanan geopolitik global serta volatilitas biaya operasional yang kian menantang.

Dorongan tersebut mengemuka dalam forum Energy Insights bertajuk The Next Chapter of Indonesian Mining: Growth, AI, Capital, and Electrification yang digelar di The Langham Hotel, Jakarta, Rabu (9/9). Forum ini menyoroti perlunya transformasi industri dari sekadar mengandalkan keunggulan sumber daya menuju penguatan kecerdasan operasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang ESDM, Aryo Djojohadikusumo, menyatakan bahwa dinamika geopolitik telah memengaruhi proyeksi keuangan perusahaan secara signifikan. Perubahan harga serta ketersediaan bahan bakar menjadi faktor utama yang memaksa perusahaan untuk lebih selektif dalam mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure.

Menurut Aryo, inovasi kini telah bergeser dari sekadar proyek percontohan menjadi kebutuhan operasional mutlak. Perusahaan pertambangan yang mampu beradaptasi dengan teknologi baru dinilai lebih tangguh dalam menghadapi ketidakpastian jangka panjang di pasar global.

Senada dengan hal tersebut, Wakil Direktur Utama MIND ID, Dany Amrul Ichdan, menegaskan pentingnya transisi menuju intelligence advantage. Ia menekankan bahwa implementasi kecerdasan buatan (AI) harus difokuskan pada peningkatan skala ekonomi, keselamatan kerja, hingga optimalisasi proses produksi.

MIND ID sendiri telah mulai mengintegrasikan AI untuk memantau kondisi peralatan pertambangan secara real-time. Penggunaan teknologi ini bertujuan untuk menekan biaya pemeliharaan sekaligus meminimalisir risiko kecelakaan di lapangan.

Di sisi lain, McKinsey & Company menyoroti pergeseran tren pertumbuhan industri yang kini mulai berfokus pada mineral kritis. Mineral ini memegang peranan vital dalam pengembangan teknologi masa depan, seperti komponen kendaraan listrik dan energi terbarukan.

Partner McKinsey & Company, Yanto, menyatakan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis dengan kepemilikan cadangan mineral fundamental dan kritis. Keunggulan ini harus dioptimalkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Associate Partner McKinsey & Company, Narendra Adoe, menambahkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah di sektor hulu dan midstream. Hal ini akan memperkuat daya saing industri di tengah dominasi kapasitas pengolahan yang saat ini masih berpusat di luar negeri.

Elektrifikasi operasional juga menjadi strategi kunci dalam menekan konsumsi bahan bakar fosil. Peralihan dari kendaraan berbahan bakar konvensional menuju sistem elektrik diharapkan mampu menurunkan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi energi.

Namun, tantangan infrastruktur seperti ketersediaan jaringan listrik di wilayah terpencil memerlukan solusi inovatif. Pengembangan sistem microgrid dan energi terbarukan dipandang sebagai langkah krusial untuk mendukung elektrifikasi tambang yang lebih andal.

Forum ini merupakan kolaborasi Kadin Indonesia dan Katadata untuk mendorong ekosistem investasi energi yang lebih transparan. Selain diskusi, Kadin juga menyediakan buletin bulanan sebagai referensi bagi pelaku industri terkait perkembangan regulasi serta peluang investasi di sektor energi dan mineral.