Energi

Harga Minyak Brent Tembus US$ 101 per Barel Akibat Ketegangan AS-Iran

48
×

Harga Minyak Brent Tembus US$ 101 per Barel Akibat Ketegangan AS-Iran

Sebarkan artikel ini
Grafik harga minyak mentah Brent yang melonjak menembus US$ 101 per barel akibat ketegangan geopolitik AS-Iran.
Harga minyak mentah Brent melonjak menembus US$ 101 per barel akibat meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.

SINGAPURA – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan lonjakan signifikan dengan menembus level psikologis US$ 101 per barel pada Kamis (10/9/2026). Kenaikan ini dipicu oleh pernyataan tegas Iran yang menyatakan kesiapan mereka untuk menghadapi perang yang lebih intensif melawan Amerika Serikat.

Harga minyak acuan dunia, Brent, bertengger di angka US$ 101,33 per barel pada pukul 09.06 waktu Singapura. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turut mengalami kenaikan sebesar 0,5 persen menjadi US$ 96,56 per barel.

Eskalasi konflik di Timur Tengah telah memicu kekhawatiran global mengenai gangguan distribusi energi. Pelaku pasar kini menyoroti ancaman terhadap jalur lalu lintas minyak vital melalui Selat Hormuz.

Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi pasokan energi dunia. Hampir 11 juta barel minyak mentah dan produk olahan mengalir melalui jalur tersebut setiap harinya.

Data Bloomberg menunjukkan bahwa harga Brent telah melonjak hampir 70 persen sepanjang tahun ini. Selain minyak mentah, harga produk olahan seperti diesel juga mencatatkan kenaikan tajam akibat risiko pasokan dari konflik Iran dan perang Rusia-Ukraina.

Pemerintah Iran menyatakan tidak akan mundur dari blokade angkatan laut yang dilakukan Amerika Serikat. Teheran bahkan mengancam akan meningkatkan intensitas serangan jika wilayah mereka terus menjadi target operasi militer AS.

Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa konflik ini kemungkinan besar akan terus berlanjut hingga pemilihan umum paruh waktu pada November mendatang. Trump menyebut tidak ada ruang bagi penurunan harga bensin dalam waktu dekat.

Upaya Washington untuk melumpuhkan ekonomi Iran melalui blokade angkatan laut telah memangkas volume ekspor minyak negara tersebut secara signifikan. Sanksi juga terus dijatuhkan kepada perusahaan internasional yang tetap menjalin hubungan bisnis dengan Iran.

Para penasihat Gedung Putih, termasuk Wakil Presiden JD Vance, dikabarkan telah membahas skenario perang yang mungkin berlanjut hingga akhir masa jabatan Trump. Situasi ini menambah beban pada sumber daya militer AS serta meningkatkan risiko gangguan pasokan energi jangka panjang.

Di sisi lain, pasar minyak global juga dipengaruhi oleh pola konsumsi dari Cina. Peningkatan permintaan dari importir minyak terbesar dunia ini sempat memperketat pasar, namun kini mulai melambat.

Kilang-kilang kecil di Cina mulai merasakan tekanan akibat tingginya harga minyak dunia. Kondisi tersebut memaksa mereka untuk mengurangi tingkat pengolahan minyak dalam beberapa pekan ke depan, yang berpotensi menekan permintaan global.

Meskipun telah menembus angka US$ 100 per barel, harga saat ini masih berada di bawah rekor tertinggi perang sebesar US$ 126 per barel yang tercapai pada April lalu. Kelancaran aliran minyak dari Teluk Persia menjadi faktor utama yang menahan harga agar tidak melambung lebih tinggi.