JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan tren pelemahan pada perdagangan hari ini, Senin (14/9/2026). Rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.669 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut menunjukkan depresiasi sebesar 0,33% dibandingkan penutupan perdagangan pada Jumat (11/9/2026). Sebelumnya, mata uang Garuda sempat bertengger di level Rp 17.611 per dolar AS.
Kondisi pelemahan mata uang domestik ini selaras dengan tren negatif yang melanda seluruh mata uang di kawasan Asia. Aksi jual di pasar mata uang regional terpantau cukup masif hingga akhir sesi perdagangan sore ini.
Hingga pukul 15.00 WIB, baht Thailand tercatat sebagai mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Nilai tukar baht anjlok sebesar 0,57% terhadap dolar AS.
Yen Jepang menyusul di posisi kedua dengan koreksi sebesar 0,53%. Sementara itu, dolar Taiwan mengalami tekanan sebesar 0,41% pada penutupan pasar hari ini.
Won Korea Selatan juga tidak luput dari tekanan dengan koreksi sebesar 0,36%. Diikuti oleh dolar Singapura yang melemah sebesar 0,28%.
Sentimen negatif juga menekan peso Filipina yang ditutup terkoreksi sebesar 0,24%. Ringgit Malaysia ikut tergelincir dengan penurunan nilai tukar sebesar 0,13%.
Dolar Hong Kong mencatatkan pelemahan yang lebih moderat, yakni sebesar 0,01%. Sementara itu, yuan China menjadi mata uang dengan pelemahan paling tipis di Asia, yakni hanya 0,001% terhadap mata uang Amerika Serikat.
Melemahnya nilai tukar di kawasan Asia secara serentak ini mengindikasikan adanya tekanan eksternal yang kuat terhadap mata uang negara berkembang. Penguatan dolar AS yang terus berlanjut menjadi faktor utama yang memicu pelemahan mata uang regional.
Para pelaku pasar saat ini tengah mencermati dinamika kebijakan moneter global yang mempengaruhi arus modal masuk dan keluar di negara-negara Asia. Volatilitas di pasar keuangan global dinilai menjadi tantangan utama bagi stabilitas nilai tukar di kawasan ini.
Hingga saat ini, belum ada intervensi yang mampu membalikkan tren pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS. Fokus investor kini tertuju pada rilis data ekonomi global mendatang yang dapat memengaruhi pergerakan indeks dolar AS.
Kondisi pasar yang cenderung defensif membuat investor lebih memilih untuk memegang aset mata uang dolar AS. Hal ini menyebabkan tekanan jual pada mata uang Asia tetap terjaga hingga akhir perdagangan sore ini.
Para analis pasar terus memantau pergerakan harga komoditas dan kebijakan bank sentral utama dunia. Ketidakpastian ekonomi global diprediksi masih akan terus membayangi pergerakan nilai tukar di pasar spot dalam beberapa waktu ke depan.





