JAKARTA – UBS AG London Branch melakukan divestasi saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebanyak 3,54 juta lembar saham pada 7 September 2026. Transaksi tersebut mencatatkan nilai penjualan sekitar Rp11,4 miliar dengan harga per saham sebesar Rp3.220.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang dipublikasikan pada Kamis (10/9/2026), aksi jual ini tidak menekan harga saham CPIN di pasar. Sebaliknya, harga saham emiten unggas tersebut justru mengalami penguatan sebesar 0,61% atau naik 20 poin ke posisi Rp3.280 pada penutupan perdagangan hari tersebut.
Manajemen CPIN menyatakan bahwa transaksi yang dilakukan UBS bertujuan untuk kebutuhan lindung nilai atau hedging atas aktivitas perdagangan derivatif klien. Status kepemilikan saham UBS di CPIN tercatat bersifat langsung.
Pasca transaksi, jumlah kepemilikan saham UBS di CPIN berkurang dari 986,27 juta saham menjadi 982,73 juta saham. Angka tersebut setara dengan 5,99% hak suara, turun tipis dari posisi sebelumnya sebesar 6,01%.
Meski terjadi pelepasan saham oleh investor asing, posisi UBS tetap berada di atas ambang batas kepemilikan 5%. Secara akumulatif, harga saham CPIN telah menunjukkan tren positif dengan kenaikan sebesar 5,81% dalam kurun waktu 30 hari terakhir.
Kinerja operasional CPIN sendiri terpantau solid sepanjang semester I-2026. Perseroan berhasil mencatatkan penjualan neto sebesar Rp39,42 triliun, meningkat 19,23% secara tahunan (year on year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp33,06 triliun.
Lonjakan laba bersih perseroan tercatat jauh lebih signifikan pada paruh pertama tahun ini. Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp3,7 triliun, tumbuh 95,13% dibandingkan laba bersih semester I-2025 yang berada di angka Rp1,9 triliun.
Pertumbuhan fundamental yang kuat ini dinilai menjadi penopang kepercayaan investor di tengah aksi jual yang dilakukan pihak asing. Analis pasar melihat bahwa langkah UBS lebih bersifat teknis terkait manajemen portofolio derivatif, bukan refleksi dari penurunan prospek bisnis CPIN.
Dinamika saham CPIN ini terjadi di tengah fluktuasi indeks saham yang melibatkan berbagai aksi investor asing di Bursa Efek Indonesia. Sebelumnya, beberapa emiten perbankan besar dan sektor teknologi juga mengalami pola transaksi serupa, di mana investor asing melakukan akumulasi maupun divestasi berdasarkan strategi investasi global masing-masing.
Penguatan kinerja CPIN sepanjang tahun 2026 menjadi indikator bahwa fundamental perusahaan tetap terjaga di tengah tantangan ekonomi makro. Perseroan diproyeksikan terus mengoptimalkan efisiensi operasional guna mempertahankan margin keuntungan di tengah kenaikan biaya produksi yang sempat membayangi sektor peternakan.






