Bursa Saham

IHSG Rawan Terkoreksi, Cek Rekomendasi Saham CDIA, UNTR, ADRO, dan MYOR

65
×

IHSG Rawan Terkoreksi, Cek Rekomendasi Saham CDIA, UNTR, ADRO, dan MYOR

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan di layar monitor bursa efek
IHSG diproyeksikan masih berada dalam tekanan koreksi pada perdagangan akhir pekan, Jumat (11/9/2026).

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih berada dalam tekanan koreksi pada perdagangan akhir pekan ini, Jumat (11/9/2026). Sentimen negatif pasar masih mendominasi setelah indeks ditutup melemah 1,33% ke level 6.589 pada perdagangan Kamis (10/9/2026).

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa secara teknikal IHSG masih terjebak dalam tren penurunan jangka pendek. Indeks berpotensi bergerak pada rentang koreksi di level 6.505 hingga 6.584.

“Area penguatan IHSG diperkirakan berada di kisaran 6.737 hingga 6.837,” jelas Herditya dalam riset hariannya.

MNC Sekuritas menetapkan area support indeks pada level 6.561–6.476. Sementara itu, level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.705–6.755.

Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, investor disarankan untuk mencermati saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA). Analis merekomendasikan strategi buy on weakness pada rentang harga Rp 695–Rp 705 dengan target harga Rp 730–Rp 760.

Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) juga masuk dalam daftar rekomendasi dengan strategi serupa. Investor disarankan mengakumulasi beli di area Rp 25.800–Rp 26.225 dengan target harga Rp 27.400–Rp 27.925.

Phintraco Sekuritas memberikan analisis senada terkait pelemahan pasar. Indeks tercatat ditutup di bawah rata-rata pergerakan lima hari (MA5) dan MA10.

Indikator teknikal seperti MACD dan Stochastic RSI saat ini membentuk pola death cross. Hal ini memperkuat sinyal bahwa IHSG akan menguji level support MA20 di area 6.525.

Jika level tersebut ditembus, IHSG dikhawatirkan melanjutkan pelemahan menuju area 6.400–6.460. Tekanan jual yang masih masif menjadi faktor utama yang membebani pergerakan indeks.

Dari sisi fundamental domestik, data penjualan ritel Juli 2026 tumbuh 1,1% secara tahunan. Pemulihan ini didorong oleh sektor makanan, minuman, dan pakaian yang mulai mencatatkan pertumbuhan positif.

Namun, pertumbuhan penjualan suku cadang otomotif melambat signifikan menjadi 5,1% dari sebelumnya 18,8%. Penjualan bahan bakar dan peralatan komunikasi bahkan masih berada dalam zona kontraksi.

Phintraco juga menyoroti kondisi fiskal negara dengan defisit APBN mencapai Rp 235,6 triliun hingga Juli 2026. Angka tersebut setara dengan 0,91% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah dinilai masih memiliki ruang fiskal yang cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi. Meski demikian, risiko pelebaran defisit tetap membayangi akibat harga minyak yang bertahan tinggi dan potensi inefisiensi anggaran.

Menyikapi dinamika tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham pilihan. Saham-saham yang dapat dicermati antara lain MAPI, MNCN, MYOR, ASII, dan ADRO.