Valuta

Rupiah Melemah 0,82% Sepekan, Simak Proyeksi Nilai Tukar Pekan Depan

36
×

Rupiah Melemah 0,82% Sepekan, Simak Proyeksi Nilai Tukar Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor perdagangan
Nilai tukar rupiah melemah 0,82% terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di level Rp17.903 per dolar AS pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Secara akumulatif dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda telah terdepresiasi sebesar 0,82% dari posisi Rp17.758 per dolar AS pada 18 September 2026.

Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menunjukkan tren serupa dengan pelemahan lebih dalam. Pada Jumat (25/9/2026), kurs JISDOR berada di posisi Rp17.917 per dolar AS, atau terkoreksi 0,97% dibandingkan posisi pekan lalu yang berada di level Rp17.745 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar ini terjadi beriringan dengan kinerja negatif di pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026) terpantau melemah 56,71 poin atau 0,90% ke posisi 6.241,89.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks LQ45, seperti PGEO, ICBP, dan WIFI, tercatat sebagai saham-saham dengan penurunan harga terdalam atau top losers. Tekanan pada pasar keuangan ini mencerminkan sentimen negatif yang sedang melanda pasar domestik.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurahman, menyatakan bahwa pelemahan rupiah merupakan dampak kombinasi tekanan eksternal dan risiko domestik. Pasar global masih memberikan tekanan melalui penguatan dolar AS serta kenaikan yield global.

Di sisi lain, investor domestik saat ini tengah mencermati kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah. Konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter, serta kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama pelaku pasar.

Rizal memproyeksikan rupiah masih akan bergerak volatil dengan kecenderungan tertekan pada pekan depan. Level psikologis Rp18.000 per dolar AS menjadi titik krusial yang akan terus dipantau oleh pasar.

Jika level tersebut tertembus secara persisten, risiko repricing aset di pasar keuangan domestik berpotensi meningkat. Sebaliknya, intervensi Bank Indonesia yang kuat serta berlanjutnya arus modal masuk (capital inflow) ke Surat Berharga Negara (SBN) diharapkan mampu menjadi bantalan bagi rupiah.

Estimasi pergerakan rupiah untuk pekan depan diprediksi berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp18.100 per dolar AS. Fokus utama otoritas moneter saat ini adalah mencegah agar depresiasi rupiah tidak berkembang menjadi tekanan yang berkelanjutan.

Pemerintah dan otoritas terkait perlu mewaspadai dampak lanjutan dari pelemahan mata uang ini. Depresiasi yang terus berlanjut berisiko memicu inflasi impor (imported inflation) yang berdampak pada kenaikan biaya produksi.

Selain itu, beban utang dalam mata uang asing juga akan meningkat seiring dengan melemahnya nilai tukar. Kondisi ini secara langsung dapat memengaruhi tingkat kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian domestik dalam jangka pendek hingga menengah.