JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pemulihan pada awal perdagangan hari ini, Jumat (25/9/2026). Indeks utama Bursa Efek Indonesia tersebut menguat 17,28 poin atau 0,27% ke level 6.315,89 pada pukul 09.10 WIB.
Rebound ini terjadi setelah IHSG mengalami tekanan signifikan pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (24/9/2026), pasar saham domestik sempat anjlok sebesar 1,20% akibat aksi jual masif dari investor asing.
Data bursa menunjukkan investor asing mencatatkan net sell jumbo mencapai Rp 1,49 triliun di seluruh pasar pada perdagangan kemarin. Tekanan jual tersebut menjadi salah satu faktor utama yang sempat menyeret indeks ke zona merah.
Sentimen positif pada pembukaan perdagangan pagi ini didorong oleh penguatan hampir seluruh indeks sektoral. IDX Sektor Teknologi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,25%.
Penguatan juga menyebar ke sektor Barang Konsumen Non-Primer, Barang Baku, serta sektor Energi. Sektor Barang Konsumen Primer, Kesehatan, Keuangan, Properti, dan Transportasi turut memberikan kontribusi positif terhadap pergerakan indeks.
Di sisi lain, IDX Sektor Infrastruktur menjadi pemberat utama pasar dengan pelemahan sebesar 0,05%. Sektor Perindustrian juga terpantau bergerak di zona negatif pada awal sesi perdagangan.
Pada jajaran saham top gainers indeks LQ45, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) memimpin dengan kenaikan 1,98%. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menyusul dengan penguatan 1,95%.
Saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) juga mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan sebesar 1,84%. Ketiga emiten tersebut menjadi motor penggerak indeks di tengah upaya pemulihan pasar.
Sementara itu, saham yang berada di jajaran top losers LQ45 pagi ini antara lain PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang terkoreksi 1,68%. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga melemah 1,43%.
Saham PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) melengkapi daftar penurunan terdalam dengan koreksi sebesar 1,01%. Pergerakan saham-saham ini menjadi cerminan dari dinamika pasar yang masih fluktuatif.
Di luar pasar modal, nilai tukar rupiah terpantau masih berada dalam tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp 17.935 per dolar AS pada hari ini.
Kondisi ekonomi makro yang menantang ini turut memengaruhi sentimen pelaku pasar di bursa domestik. Investor terus memantau stabilitas mata uang sebagai indikator kesehatan ekonomi nasional.
Selain dinamika pasar saham, perhatian pasar juga tertuju pada strategi ekspansi emiten di tengah volatilitas ekonomi. PT Folago Global Nusantara Tbk (IRSX), misalnya, tengah menggenjot lini bisnis berbasis kecerdasan buatan (AI).
Perusahaan tersebut berfokus pada pengembangan micro drama dan media commerce. Langkah ini menjadi salah satu strategi diversifikasi bisnis di tengah ketatnya persaingan industri hiburan dan teknologi.






