JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot masih berada dalam tekanan berat pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Hingga tengah hari, mata uang Garuda tercatat melemah 0,12% ke level Rp17.868 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp17.847 per dolar AS. Tekanan sempat meningkat tajam pada pagi hari ketika rupiah menembus level psikologis di atas Rp17.900 per dolar AS pada pukul 10.12 WIB.
Kondisi pelemahan rupiah ini terjadi di tengah tren penguatan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Data pasar menunjukkan bahwa hampir seluruh mata uang regional berhasil mencatatkan apresiasi terhadap dolar AS hingga pukul 11.50 WIB.
Won Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan Asia dengan lonjakan signifikan sebesar 1,15%. Capaian ini diikuti oleh dolar Taiwan yang menguat 0,21% dan peso Filipina yang naik 0,19%.
Sentimen positif juga menyelimuti ringgit Malaysia serta dolar Singapura yang masing-masing mencatatkan kenaikan sebesar 0,05%. Rupee India turut terapresiasi sebesar 0,04%, sementara baht Thailand menyusul dengan kenaikan 0,03%.
Dolar Hong Kong juga berada di zona hijau meskipun hanya mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,01%. Tren penguatan di berbagai negara Asia ini mencerminkan dinamika pasar keuangan global yang sedang merespons fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Sebaliknya, rupiah justru menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia pada sesi perdagangan tengah hari ini. Kondisi ini menempatkan Indonesia pada posisi yang kontras dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan.
Selain rupiah, beberapa mata uang lain juga mengalami tekanan serupa terhadap dolar AS. Yen Jepang tercatat tergelincir sebesar 0,08% pada periode waktu yang sama.
Yuan China juga mengalami pelemahan tipis sebesar 0,04% terhadap dolar AS. Secara keseluruhan, pergerakan ini menunjukkan bahwa mata uang negara berkembang memiliki volatilitas yang berbeda-beda dalam merespons kebijakan moneter global.
Para pelaku pasar kini terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah menjelang penutupan perdagangan sore nanti. Ketahanan rupiah dalam menghadapi tekanan dolar AS menjadi fokus utama para analis ekonomi domestik.
Faktor eksternal seperti kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed) diprediksi masih menjadi penentu utama pergerakan mata uang global. Investor cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi internasional.
Stabilitas nilai tukar rupiah ke depan akan sangat bergantung pada intervensi kebijakan serta fundamental ekonomi nasional. Bank Indonesia sebagai otoritas moneter terus memantau pergerakan pasar untuk menjaga stabilitas mata uang.




