Valuta

Rupiah Melemah ke Rp17.900 per Dolar AS, Terburuk di Asia

81
×

Rupiah Melemah ke Rp17.900 per Dolar AS, Terburuk di Asia

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah ke level Rp17.900.
Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan Kamis (24/9/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (24/9/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah ke level Rp17.900 per dolar AS.

Posisi tersebut mencerminkan depresiasi sebesar 0,59% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp17.795. Dengan capaian ini, rupiah memimpin pelemahan mata uang di kawasan Asia.

Data Reuters menunjukkan bahwa won Korea Selatan menyusul di posisi kedua dengan pelemahan sebesar 0,55%. Won kini diperdagangkan di level 1.373,33 per dolar AS dari posisi sebelumnya 1.365,74.

Tekanan juga dirasakan oleh mata uang regional lainnya di pasar Asia. Dolar Taiwan tercatat melemah 0,36% menjadi 31,830 per dolar AS.

Ringgit Malaysia turut mengalami koreksi sebesar 0,24% pada sesi perdagangan pagi ini. Sementara itu, baht Thailand melemah 0,13% dan peso Filipina turun 0,10%.

Yuan China juga menunjukkan tren negatif dengan koreksi sebesar 0,09%. Kondisi ini memperlihatkan sentimen pasar yang cenderung berhati-hati terhadap aset berisiko di Asia.

Berbeda dengan mayoritas mata uang kawasan, yen Jepang justru menunjukkan penguatan sebesar 0,23%. Yen kini berada di level 157,92 per dolar AS.

Dolar Singapura juga terpantau relatif stabil dengan mencatatkan penguatan tipis 0,07%. Variasi pergerakan mata uang ini dipengaruhi oleh dinamika internal masing-masing negara serta respons pasar terhadap kebijakan moneter global.

Secara kumulatif sepanjang tahun 2026, rupiah tercatat sebagai salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia. Rupiah telah terdepresiasi sebesar 6,11% dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang berada di level Rp16.670 per dolar AS.

Tingkat depresiasi tahunan rupiah ini melampaui kinerja mata uang negara tetangga lainnya. Sebagai perbandingan, rupee India melemah 5,81% dan peso Filipina turun 4,79% secara year-to-date.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru berhasil mencatatkan penguatan signifikan sepanjang tahun berjalan. Won Korea tercatat menguat 4,39% dan yuan China naik 3,97%.

Dolar Singapura juga mencatatkan apresiasi sebesar 1,16% sejak awal tahun. Ringgit Malaysia turut membukukan kenaikan sebesar 0,75% terhadap dolar AS.

Pergerakan nilai tukar ini terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Investor global saat ini masih menanti data inflasi terbaru sebagai acuan arah suku bunga ke depan.

Selain itu, dinamika ekonomi dan perdagangan global menjadi faktor penentu utama bagi volatilitas pasar keuangan. Pelaku pasar terus mencermati setiap sinyal kebijakan yang muncul dari otoritas moneter Amerika Serikat.

Stabilitas rupiah kini menjadi perhatian utama di tengah tekanan eksternal yang terus membayangi pasar domestik. Kondisi pasar yang masih terkonsolidasi mencerminkan sikap wait-and-see dari para investor.