Bursa Saham

Prospek Kinerja AADI Menguat Didorong Kenaikan Harga Komoditas Batubara

65
×

Prospek Kinerja AADI Menguat Didorong Kenaikan Harga Komoditas Batubara

Sebarkan artikel ini
Logo PT Adaro Andalan Indonesia Tbk di kantor pusat
PT Adaro Andalan Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 10,5% pada semester pertama 2026.

JAKARTA – PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencatatkan kinerja keuangan yang solid sepanjang semester pertama tahun 2026. Tren penguatan harga komoditas batubara global diproyeksikan menjadi katalis utama yang mendorong pertumbuhan laba perusahaan hingga akhir tahun.

Perseroan berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan sebesar 6,1% secara tahunan (YoY) menjadi US$ 2,55 miliar pada periode tersebut. Sementara itu, laba bersih perusahaan tumbuh 10,5% YoY menjadi US$ 473,8 juta.

Analis menyoroti harga jual rata-rata (ASP) yang lebih tinggi sebagai faktor kunci keberhasilan AADI. Efisiensi biaya tunai yang terjaga mampu mengimbangi penurunan volume produksi akibat gangguan cuaca di awal tahun.

Manajemen AADI memastikan bahwa tantangan cuaca dan penurunan permukaan sungai di Kalimantan tidak menghambat logistik pengangkutan. Volume pengangkutan tercatat meningkat 22,3% secara kuartalan (QoQ) menjadi 20,4 juta metrik ton pada kuartal kedua 2026.

Secara kumulatif, volume pengangkutan pada semester pertama 2026 mencapai 37,0 juta metrik ton atau naik 4,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini didukung oleh aktivitas penambangan yang lebih optimal pada kuartal kedua.

Sentimen positif juga datang dari pasar ekspor, khususnya India dan Tiongkok. Gangguan pasokan domestik di Tiongkok serta pengetatan persediaan pembangkit listrik di India diprediksi akan terus memicu permintaan terhadap batubara AADI.

Selain bisnis batubara, perseroan mulai mendiversifikasi basis pendapatannya. Layanan penyewaan aset listrik dan pemeliharaan menyumbang pendapatan sebesar US$ 44,2 juta pada semester pertama 2026.

Meskipun kontribusinya masih sekitar 1,7% dari total pendapatan, diversifikasi ini diharapkan memperkuat ketahanan margin perusahaan. AADI juga tengah menanti penyelesaian transaksi penjualan kepemilikan di Kestrel Coal Group (KCG) kepada Yancoal.

Transaksi tersebut diperkirakan akan memberikan arus kas masuk sebesar US$ 888 juta pada kuartal ketiga 2026. Dana ini diproyeksikan akan digunakan untuk pengurangan utang dan pembagian dividen bagi pemegang saham.

Setiap pembayaran 10% dari hasil penjualan KCG berpotensi menambah imbal hasil dividen sebesar 1,8% pada tahun 2026. Hal ini menjadikan saham AADI sebagai instrumen yang menarik bagi investor yang mengincar dividen.

Di sisi operasional, status Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) memberikan keunggulan struktural bagi AADI. Status ini menjamin kepastian kuota produksi dibandingkan dengan emiten sejenis di industri pertambangan.

Harga batubara yang sempat menyentuh level di atas US$ 145 per ton pada awal September turut memperkuat prospek pendapatan. Permintaan energi global yang tinggi dinilai lebih dominan dibandingkan transisi menuju energi terbarukan dalam jangka pendek.

Analis memproyeksikan pendapatan AADI sepanjang 2026 dapat mencapai US$ 5,45 miliar dengan laba bersih sebesar US$ 1,02 miliar. Target harga saham AADI berada pada kisaran Rp 12.400 hingga Rp 12.800 per lembar dengan rekomendasi beli.