JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diproyeksikan memiliki potensi penguatan harga saham yang signifikan hingga mencapai level Rp 4.700 per lembar. Optimisme ini muncul di tengah fundamental perusahaan yang dinilai solid berkat diversifikasi portofolio bisnis nikel yang kini menjadi penopang utama kinerja perseroan.
Berdasarkan data perdagangan per Jumat (4/9/2026), harga saham emiten BUMN tambang ini ditutup melemah 0,95 persen ke level Rp 3.120 per saham. Dalam sebulan terakhir, pergerakan saham ANTM tercatat mengalami akumulasi pelemahan sebesar 1,27 persen atau setara dengan 40 poin.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Hasan Barakwan, dalam risetnya per 2 September 2026, tetap mempertahankan rekomendasi beli terhadap saham ANTM. Target harga Rp 4.700 ditetapkan dengan mempertimbangkan komposisi laba perseroan yang kini jauh lebih seimbang dan berkelanjutan memasuki paruh kedua tahun 2026.
Kinerja keuangan ANTM sepanjang semester I 2026 tercatat melampaui ekspektasi pasar secara signifikan. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 62,7 triliun, meningkat 6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pencapaian laba bersih perseroan melonjak 36 persen yoy menjadi Rp 6,39 triliun. Angka tersebut mencakup 67,8 persen dari proyeksi tahun berjalan Maybank Sekuritas dan 61,5 persen dari konsensus pasar secara keseluruhan.
Lonjakan profitabilitas ini didorong oleh integrasi bisnis nikel yang sangat kuat. Penjualan feronikel pada kuartal II 2026 tercatat meroket 420 persen yoy menjadi 4.802 ton nikel (tNi).
Selain volume, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bijih nikel juga memberikan kontribusi positif dengan kenaikan 50 persen yoy menjadi US$81,6 per wet metric ton (wmt). Pertumbuhan ini menjadi bantalan penting di tengah mulai terjadinya normalisasi pada bisnis emas.
Meskipun segmen emas sempat mencatat pemulihan volume penjualan sebesar 14 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026, angka tersebut masih menunjukkan koreksi 38 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Namun, lini bisnis lainnya seperti bauksit dan produk chemical grade alumina (CGA) turut mencatatkan pertumbuhan masing-masing sebesar 23 persen dan 10 persen.
Maybank Sekuritas memproyeksikan ANTM mampu mencatatkan pendapatan hingga Rp 130,53 triliun dengan laba bersih mencapai Rp 9,26 triliun hingga akhir 2026. Proyeksi pertumbuhan berlanjut pada 2027 dengan estimasi pendapatan sebesar Rp 136,54 triliun dan laba bersih Rp 10,14 triliun.
Kondisi fundamental yang kuat ini diyakini menjadi katalis utama bagi valuasi jangka menengah perseroan. Integrasi nikel dipastikan menjadi mesin pertumbuhan baru yang mampu menjaga stabilitas margin di tengah fluktuasi pasar komoditas global.






