SUMBAWA – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) resmi memasuki fase operasional baru yang krusial bagi peningkatan produksi mineral di Tambang Batu Hijau, Nusa Tenggara Barat. Perseroan kini fokus mengoptimalkan cadangan bijih dengan kadar mineral lebih tinggi pasca-penuntasan Fase 7.
Transisi menuju Fase 8 yang telah dirintis sejak 2021 kini mulai membuahkan hasil signifikan pada kuartal pertama 2026. Volume bijih segar yang ditambang melonjak drastis dari 1 juta ton menjadi 38 juta ton.
Kualitas bijih juga mengalami peningkatan mutu secara substansial. Kadar tembaga tercatat naik dari 0,31% menjadi 0,53%, sementara kandungan emas meningkat dari 0,17 gram menjadi 0,54 gram per ton.
Lonjakan kualitas tersebut berdampak langsung pada volume produksi konsentrat yang melesat 110% menjadi 167.792 metrik ton kering. Kandungan logam dalam konsentrat juga mencatatkan pertumbuhan signifikan, yakni tembaga naik 173% dan emas melonjak hingga 321%.
Direktur Utama AMMAN, Arief Sidarto, menyatakan bahwa eksekusi operasional yang solid menjadi kunci capaian tersebut. Perusahaan kini mampu mengintegrasikan seluruh rantai bisnis dari penambangan hulu hingga pemurnian di hilir.
Peralihan ke Fase 8 berjalan beriringan dengan beroperasinya smelter tembaga dan Precious Metals Refinery (PMR). Fasilitas ini telah menghasilkan 27.670 ton katoda tembaga dan 66.209 ons emas murni hingga pertengahan tahun.
Kinerja operasional yang moncer ini membawa perubahan drastis pada neraca keuangan perusahaan. AMMAN berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 160,16 juta atau sekitar Rp 2,84 triliun pada kuartal I 2026.
Angka tersebut berbalik positif dibandingkan periode yang sama tahun 2025 di mana perusahaan mencatat rugi bersih. Total penjualan pun melonjak drastis didorong oleh stabilnya proses ramp-up smelter.
Strategi pertumbuhan jangka panjang perusahaan kini bertumpu pada pengembangan Blok Elang. Deposit yang masuk kategori Super Giant Cu-Au Porphyry ini memiliki cadangan sekitar 2,52 miliar ton bijih.
Blok Elang diproyeksikan menjadi mesin pertumbuhan berikutnya setelah operasional Tambang Batu Hijau berakhir pada 2046. Perusahaan juga tengah memperluas pabrik konsentrator untuk melipatgandakan kapasitas pengolahan hingga 85 juta ton per tahun.
Investasi sebesar US$ 1,462 miliar pada smelter dan PMR menjadi bukti keseriusan perusahaan dalam hilirisasi. Fasilitas ini telah mencapai kapasitas maksimum sejak Juni 2026 dengan menggunakan teknologi Double Flash Cyclone.
Analis Stockbit Sekuritas memproyeksikan laba bersih AMMAN akan terus meningkat hingga mencapai US$ 1,59 miliar pada 2027. Proyeksi ini didukung oleh peningkatan volume output, utilisasi smelter yang mencapai 100%, serta tren kenaikan harga komoditas global.
Selain produk utama, penjualan asam sulfat sebagai produk sampingan smelter turut menjadi katalis positif bagi laba perusahaan. Tingginya permintaan domestik dari smelter HPAL di tengah terbatasnya pasokan global semakin memperkuat posisi strategis AMMAN di pasar mineral nasional.






