Bursa Saham

Musim Dividen Interim 2026 Dimulai, Cermati Saham BBCA dan Emiten Potensial

71
×

Musim Dividen Interim 2026 Dimulai, Cermati Saham BBCA dan Emiten Potensial

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar grafik pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia dengan logo bank besar
Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia mulai memasuki musim pembagian dividen interim tahun buku 2026.

JAKARTA – Musim pembagian dividen interim tahun buku 2026 mulai menunjukkan tren positif seiring dengan meningkatnya aktivitas sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia. Investor kini mencermati peluang imbal hasil dari perusahaan-perusahaan yang memiliki rekam jejak keuangan solid dan arus kas yang stabil.

Sektor perbankan menjadi motor penggerak utama dalam aksi korporasi ini. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tercatat telah membagikan dividen interim sebesar Rp 25 per saham untuk kuartal III-2026, menyusul pembagian sebelumnya pada Juni lalu.

Selain BBCA, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga telah menetapkan dividen interim sebesar Rp 66 per saham dengan total nilai mencapai Rp 6,16 triliun. Langkah serupa diambil oleh PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang menyiapkan dana dividen sebesar Rp 793,8 miliar atau Rp 30 per saham.

Emiten lainnya yang turut meramaikan musim dividen adalah PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) dengan pembagian dividen interim senilai Rp 50,32 miliar atau setara Rp 4,5 per lembar saham. PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) juga akan menyalurkan dividen interim tahap kedua sebesar Rp 145,38 miliar.

Head of Research KISI, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa periode Agustus hingga Oktober merupakan waktu krusial bagi investor untuk memantau arus kas emiten pasca-laporan kinerja semester pertama. Peluang dividen dinilai cukup terbuka, terutama pada sektor tambang emas dan komoditas kelapa sawit (CPO).

Wafi mencatat, beberapa emiten seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) memiliki potensi besar didorong oleh permintaan logam mulia serta peningkatan operasional di Tambang Emas Pani. Sementara itu, sektor CPO mendapat sentimen positif dari penguatan harga dan implementasi program B50.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menambahkan bahwa puncak musim dividen interim diprediksi terjadi pada Oktober hingga November. Hal ini menyusul rilis kinerja keuangan kuartal ketiga yang memberikan gambaran lebih akurat mengenai kemampuan distribusi laba perusahaan.

Liza merekomendasikan investor untuk melirik emiten dengan visibilitas laba yang kuat seperti BBCA, BMRI, TAPG, SMSM, dan ITMG. Saham-saham tersebut dinilai memiliki kombinasi rekam jejak distribusi dividen yang konsisten bagi para pemegang saham.

Meskipun demikian, investor diingatkan agar tidak terjebak hanya pada besaran dividend yield. Harga saham secara teoritis akan mengalami penyesuaian atau koreksi setelah tanggal cum-date berlangsung.

Strategi akumulasi saham secara bertahap disarankan untuk dilakukan sebelum puncak musim dividen terjadi. Investor perlu tetap selektif dalam memilih emiten, terutama mempertimbangkan kebutuhan belanja modal yang tinggi pada sektor pertambangan dibandingkan dengan arus kas yang tersedia.

Di sisi lain, beberapa emiten masih melakukan kajian internal terkait pembagian dividen. PT Astra International Tbk (ASII) menyatakan bahwa keputusan dividen interim akan sangat bergantung pada posisi keuangan, profitabilitas, serta kebutuhan kas untuk operasional dan investasi perusahaan ke depan.