Energi

Harga Minyak Dekati US$ 100, Bursa Asia Tertekan Konflik Timur Tengah

44
×

Harga Minyak Dekati US$ 100, Bursa Asia Tertekan Konflik Timur Tengah

Sebarkan artikel ini
Kilang minyak mentah dengan latar belakang pipa industri saat harga minyak dunia mendekati US$ 100 per barel.
Harga minyak dunia kembali melonjak mendekati level US$ 100 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia mencatatkan tren kenaikan signifikan pada perdagangan Rabu (9/9/2026), dengan Brent mendekati level psikologis US$ 100 per barel. Eskalasi konflik yang kian memanas di Timur Tengah menjadi pemicu utama lonjakan harga energi ini.

Harga minyak Brent tercatat naik US$ 1,57 menjadi US$ 99,49 per barel pada awal sesi perdagangan hari ini. Capaian tersebut merupakan level tertinggi yang diraih sejak akhir Juni lalu.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut terkerek naik sebesar US$ 1,60 ke posisi US$ 94,63 per barel. Kenaikan ini menandai penguatan harga minyak selama empat sesi perdagangan berturut-turut.

Gejolak di pasar energi ini dipicu oleh eskalasi militer yang melibatkan kelompok Houthi dan Iran terhadap Arab Saudi serta pangkalan militer Amerika Serikat di Yordania. Kondisi ini memperkeruh ketegangan di kawasan yang menjadi jalur krusial distribusi minyak dunia.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran global akan kembalinya tekanan inflasi. Investor kini khawatir tingginya biaya energi akan mempersulit bank sentral dalam melonggarkan kebijakan moneter di masa mendatang.

Pasar saham Asia menunjukkan pergerakan yang variatif akibat sentimen tersebut. Indeks saham Australia dan Hang Seng Hong Kong terpantau melemah, masing-masing sebesar 0,3% dan 0,6%.

Sebaliknya, bursa saham Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan justru mencatatkan penguatan. Lonjakan saham di sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) menjadi katalis positif yang menahan laju penurunan indeks di pasar Asia.

Pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data inflasi Amerika Serikat yang dijadwalkan keluar pada Jumat mendatang. Data ini diprediksi menjadi acuan utama bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga pada pekan depan.

Saat ini, pasar memprediksi adanya probabilitas yang hampir seimbang antara keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga atau melakukan pemangkasan sebesar 25 basis poin. Ketidakpastian arah kebijakan ini terus menjaga volatilitas di pasar global.

Di sisi lain, Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Langkah ini diproyeksikan akan diambil segera setelah keputusan kebijakan moneter dari The Fed diumumkan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga BOJ telah mendorong penguatan nilai tukar yen sebesar 0,2% menjadi 153,66 per dolar AS. Dalam lima sesi terakhir, mata uang Jepang tersebut telah menguat secara akumulatif sekitar 4%.

Sementara itu, euro mengalami kenaikan tipis sebesar 0,1% menjelang keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) pada Kamis besok. Pasar memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin sebagai respons terhadap tekanan inflasi akibat perang Iran.

Pada pasar komoditas lainnya, harga emas terpantau naik 0,3% ke level US$ 4.368 per ons. Aset kripto Bitcoin juga mencatatkan pergerakan positif dengan menyentuh level US$ 78.680,60.