Peristiwa

Karhutla Ancam Kantong Gajah Sumatra di Padang Sugihan

32
×

Karhutla Ancam Kantong Gajah Sumatra di Padang Sugihan

Sebarkan artikel ini
Lahan hutan yang hangus terbakar di kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan akibat karhutla.
Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Suaka Margasatwa Padang Sugihan yang menjadi habitat gajah sumatra.

PALEMBANG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif di Sumatra Selatan telah menempatkan kantong-kantong habitat gajah sumatra dalam kondisi kritis. Suaka Margasatwa Padang Sugihan menjadi salah satu lokasi terdampak paling parah, dengan akumulasi titik panas tertinggi dibandingkan kawasan konservasi gajah lainnya.

Data pemantauan Geopix mencatat setidaknya 2.300 hektare lahan di kawasan tersebut telah hangus terbakar sejak akhir Agustus 2026. Meski Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 melaporkan 29 gajah binaan dalam kondisi sehat, ancaman kerusakan ekosistem jangka panjang terus membayangi.

Kementerian Kehutanan mengonfirmasi bahwa seluruh gajah binaan di PKG Jalur 21 saat ini masih terhindar dari gangguan kesehatan akibat paparan asap. Namun, pemerintah tetap mewaspadai dampak berantai yang dapat mengganggu keberlangsungan populasi gajah di masa depan.

Berdasarkan analisis Geopix, kantong habitat Padang Sugihan-Lebong Hitam-Simpang Heran mencatat 2.542 titik panas selama periode Juni hingga 8 September 2026. Lonjakan titik api paling signifikan terjadi pada September, yakni mencapai 1.547 titik.

Kawasan ini merupakan rumah bagi populasi gajah yang cukup besar, yakni antara 101 hingga 200 individu yang tersebar di wilayah seluas 600 ribu hektare. Selain gajah binaan, kawasan ini juga menjadi habitat penting bagi gajah liar.

Secara keseluruhan, terdapat 21 kantong gajah sumatra yang tersisa di pulau ini. Geopix mendeteksi 4.595 titik panas di seluruh kantong gajah, atau setara dengan 12,08 persen dari total 38 ribu titik panas yang tersebar di Sumatra.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyatakan bahwa karhutla telah menciptakan krisis ruang hidup bagi satwa liar. Gajah sumatra kini menghadapi ancaman nyata berupa hilangnya tempat bertahan hidup akibat degradasi habitat yang ekstrem.

Kualitas udara di sejumlah kantong habitat, seperti Bukit 30 Tebo Serangge, bahkan tercatat mencapai level sangat tidak sehat. Kondisi ini memberikan tekanan fisiologis berat bagi gajah yang memiliki kebutuhan pernapasan tinggi.

Selain polusi udara, gajah juga menghadapi krisis pakan dan air bersih akibat kekeringan yang diperparah oleh kebakaran. Mamalia ini membutuhkan hingga 160 liter air per hari, sehingga pengeringan sungai di habitat mereka menjadi ancaman serius.

Fragmentasi habitat akibat karhutla berpotensi mengubah pola pergerakan gajah secara alami. Kondisi tersebut dikhawatirkan akan memicu gajah keluar dari kawasan hutan hingga akhirnya meningkatkan potensi konflik dengan warga sekitar.

Geopix mendesak pemerintah untuk memperketat penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan. Mereka menuntut adanya pertanggungjawaban hukum, termasuk kewajiban pemulihan ekosistem dan penggantian kerugian lingkungan.

Evaluasi terhadap program perhutanan sosial di area yang beririsan dengan habitat gajah juga menjadi sorotan penting. Program pemberdayaan masyarakat diminta tidak disalahgunakan untuk ekspansi tanaman monokultur yang dapat merusak bentang alam.

Sinergitas lintas sektor diperlukan untuk memitigasi risiko ikutan karhutla terhadap satwa liar. Perlindungan habitat harus menjadi prioritas utama guna memastikan keberlangsungan hidup gajah sumatra di masa depan.