Bursa Saham

Realisasi Capex Astra International (ASII) Capai Rp17 Triliun di Semester I-2026

48
×

Realisasi Capex Astra International (ASII) Capai Rp17 Triliun di Semester I-2026

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor PT Astra International Tbk di Jakarta
PT Astra International Tbk mencatatkan realisasi belanja modal sebesar Rp17 triliun sepanjang semester I-2026.

JAKARTA – PT Astra International Tbk (ASII) mencatatkan realisasi belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 17 triliun hingga pertengahan tahun 2026. Angka tersebut merepresentasikan 47,2% dari total target belanja modal perusahaan untuk tahun ini yang dipatok mencapai Rp 36 triliun.

Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, menyampaikan bahwa penyerapan dana tersebut dilakukan secara terukur. Pernyataan ini disampaikan dalam acara Media Day Astra di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Sebagian besar dari realisasi belanja modal tersebut terserap untuk aksi korporasi strategis. Dana tersebut utamanya digunakan untuk mendukung akuisisi tambang emas PT Arafura Surya Alam melalui anak usahanya, PT United Tractors Tbk (UNTR).

Sisa dari realisasi belanja modal tersebut dialokasikan untuk kebutuhan rutin perusahaan. Fokus utamanya adalah pembelian alat berat guna memperkuat operasional bisnis kontraktor pertambangan di bawah naungan grup United Tractors.

Manajemen Astra menyatakan akan tetap bersikap selektif dan disiplin dalam mengalokasikan sisa anggaran belanja modal hingga akhir tahun. Perusahaan memprioritaskan pengeluaran pada sektor-sektor yang mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Evaluasi berkala terhadap penggunaan anggaran belanja modal akan terus dijalankan oleh perusahaan. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap investasi yang dikeluarkan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional grup secara keseluruhan.

“Belanja modal ini dari waktu ke waktu terus kami evaluasi. Kami memastikan bahwa setiap alokasi dana tersebut harus mendukung produktivitas bisnis ke depannya,” ujar Tira.

Di sisi lain, dinamika pasar modal global saat ini tengah menunjukkan optimisme terhadap kinerja emiten di Asia. Goldman Sachs baru saja menaikkan target indeks MSCI AC Asia Pacific ex-Japan menjadi 1.120 dari sebelumnya 1.080. Kenaikan target ini didorong oleh ekspektasi peningkatan laba perusahaan, terutama dari pasar Korea dan Taiwan.

Kondisi ekonomi regional yang cenderung ekspansif ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi perusahaan besar seperti Astra untuk mengoptimalkan neraca keuangan mereka. Strategi disiplin dalam belanja modal diharapkan mampu menjaga stabilitas fundamental perusahaan di tengah kondisi pasar yang dinamis.

Langkah Astra ini sejalan dengan tren efisiensi yang tengah dilakukan oleh banyak entitas bisnis di Asia. Di sektor lain, perusahaan seperti ByteDance bahkan baru saja mengamankan pinjaman sebesar 29,6 miliar dolar AS, yang menjadi salah satu pembiayaan berdenominasi dolar terbesar di Asia tahun ini.

Astra kini berupaya menyeimbangkan antara kebutuhan ekspansi bisnis dan ketahanan arus kas. Dengan sisa anggaran belanja modal yang masih tersedia, perusahaan memiliki ruang untuk bermanuver di sisa tahun 2026 sembari tetap memantau kondisi makro ekonomi global.