JAKARTA – Harga perangkat telepon pintar di Indonesia melonjak tajam dengan kisaran kenaikan 7% hingga 45% sepanjang tahun 2026. Kondisi ini dipicu oleh kelangkaan pasokan cip memori global yang memaksa produsen melakukan penyesuaian harga pada model lama maupun produk baru.
Tekanan pasokan memori terjadi karena produsen mengalihkan lini produksi DRAM dan NAND untuk memenuhi permintaan cip pusat data kecerdasan buatan (AI). Cip memori untuk AI menawarkan margin keuntungan tiga hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan komponen untuk perangkat elektronik konsumen.
Data IDC memproyeksikan harga rata-rata ponsel global akan mencapai rekor US$ 581 atau setara Rp 10,3 juta pada 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan signifikan dari estimasi awal sebesar US$ 523 yang sempat diprediksi pada Februari lalu.
Dampak kenaikan harga ini sangat dirasakan oleh segmen pasar entry-level dan kelas menengah di Indonesia. Pengiriman ponsel di tanah air tercatat turun 9% secara tahunan pada kuartal I 2026 akibat banyaknya konsumen yang menunda penggantian perangkat.
Segmen entry-level dengan harga di bawah Rp 2,7 juta mengalami penurunan pengiriman paling dalam sebesar 19%. Sebaliknya, segmen premium dengan harga di atas Rp 10,6 juta justru mencatat pertumbuhan sebesar 30% pada periode yang sama.
Kelangkaan komponen menjadi beban utama bagi industri manufaktur ponsel saat ini. Pada kuartal I 2026, harga DRAM global melonjak lebih dari 50%, sementara harga NAND Flash meroket hingga lebih dari 90% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Biaya memori kini menyumbang porsi besar dalam struktur biaya komponen ponsel. Pada ponsel kelas menengah, memori mencakup 15%-20% dari total biaya komponen, sementara pada segmen entry-level kontribusinya mencapai lebih dari 65%.
Produsen kini terpaksa melakukan penyesuaian konfigurasi untuk menekan ongkos produksi. Beberapa model flagship tetap bertahan dengan kapasitas RAM 12GB tanpa peningkatan, sementara model kelas bawah mulai mengurangi spesifikasi komponen lain seperti modul kamera dan layar.
Senior Research Director for Worldwide Consumer Devices, Nabila Popal, menyatakan bahwa era ponsel sangat murah telah berakhir. Vendor yang mampu beradaptasi dengan struktur biaya baru akan menjadi pihak yang bertahan di tengah pasar yang menantang.
Para ahli menyarankan konsumen untuk mengubah pola pikir dalam memilih perangkat baru. Fokus tidak lagi sekadar pada besaran RAM atau chipset terbaru, melainkan pada daya tahan baterai dan konsistensi performa jangka panjang.
Konsumen juga diimbau memperhatikan aspek umur pakai perangkat, termasuk ketersediaan suku cadang dan durasi dukungan pembaruan sistem keamanan dari produsen. Hal ini dianggap krusial karena tekanan harga memori diprediksi akan berlanjut hingga beberapa tahun ke depan.
Lembaga riset memperkirakan harga memori tidak akan kembali ke level tahun 2025 dalam waktu dekat. Tekanan pasokan diperkirakan bertahan setidaknya hingga 2028, bahkan sejumlah eksekutif industri memori memperingatkan ketimpangan pasokan mungkin terjadi hingga melampaui tahun 2030.






