Investasi

Anwar Ibrahim Surati Prabowo Terkait Kerugian Rp11 T BUMN Malaysia di BWPT

30
×

Anwar Ibrahim Surati Prabowo Terkait Kerugian Rp11 T BUMN Malaysia di BWPT

Sebarkan artikel ini
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Prabowo Subianto
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyurati Presiden Prabowo Subianto terkait kerugian investasi BUMN Malaysia di PT Eagle High Plantations Tbk.

JAKARTA – Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim secara resmi menyurati Presiden Prabowo Subianto terkait kerugian investasi jumbo yang dialami Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Malaysia, Federal Land Development Authority (Felda). Investasi tersebut tertanam di perusahaan minyak sawit mentah milik konglomerat Peter Sondakh, PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

Kerugian yang membayangi Felda diperkirakan mencapai Rp11 triliun atau setara dengan 2,5 miliar ringgit Malaysia. Anwar menyebutkan bahwa dana yang berpotensi kembali hanya sekitar 200 juta ringgit, yang mengindikasikan hilangnya sebagian besar modal negara tersebut.

Persoalan ini bermula dari keputusan investasi yang diambil pada era pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak. Hingga saat ini, Felda terjebak dalam sengketa hukum di pengadilan Indonesia terkait pengembalian dana investasi tersebut.

Anwar menegaskan bahwa keterlibatan Presiden Prabowo diperlukan untuk memberikan perhatian khusus pada kasus ini. Langkah diplomatik ini diambil guna memastikan penyelesaian masalah investasi yang dinilai merugikan keuangan negara Malaysia tersebut.

Dampak dari ketidakpastian hukum ini juga tercermin di pasar modal Indonesia. Saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) terpantau melemah pada perdagangan Rabu, 26 Agustus 2026.

Pada pukul 10.03 WIB, harga saham BWPT anjlok sebesar 3,74 persen ke level Rp103 per lembar saham. Volume transaksi tercatat mencapai 202,23 juta lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp20,86 miliar.

Kapitalisasi pasar emiten sawit tersebut saat ini tercatat berada di angka Rp3,25 triliun. Secara year-to-date (ytd), performa saham BWPT menunjukkan tren negatif dengan penurunan mencapai 28,67 persen.

Dalam lima tahun terakhir, valuasi perusahaan ini juga terus tertekan dengan pelemahan akumulatif sebesar 18,40 persen. Kondisi ini memperburuk posisi keuangan Felda yang hingga kini belum mendapatkan kepastian pengembalian dana.

Di sisi lain, dinamika politik di Malaysia saat ini tengah berada dalam tekanan tinggi. Selain masalah investasi luar negeri, pemerintahan Anwar Ibrahim menghadapi tantangan stabilitas internal koalisi serta kekalahan dalam sejumlah pemilihan tingkat negara bagian.

Tekanan juga datang dari pihak oposisi, termasuk dari Wakil Presiden PAS, Datuk Seri Tuan Ibrahim Tuan Man, yang berencana mengambil langkah hukum terkait kebijakan pemerintahan saat ini. Anwar tetap konsisten dalam mempertahankan sikap prinsipil Malaysia, termasuk penolakan terhadap tekanan dari Amerika Serikat terkait isu-isu geopolitik global.

Di tengah tekanan politik dan ekonomi tersebut, penyelesaian sengketa investasi di Indonesia menjadi krusial bagi administrasi Anwar Ibrahim. Pemerintah Malaysia berharap proses hukum di Indonesia dapat memberikan jalan keluar yang adil bagi pemulihan dana Felda.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lebih lanjut dari pihak istana kepresidenan Indonesia maupun manajemen PT Eagle High Plantations Tbk mengenai isi surat tersebut. Proses hukum di pengadilan Indonesia hingga kini masih menjadi satu-satunya jalur yang ditempuh untuk menentukan nasib investasi tersebut.