Energi

Harga Minyak Naik Usai Trump Ancam Sanksi Mitra Dagang Iran

8
×

Harga Minyak Naik Usai Trump Ancam Sanksi Mitra Dagang Iran

Sebarkan artikel ini
Pipa penyaluran minyak mentah di fasilitas kilang industri saat aktivitas perdagangan
Harga minyak mentah dunia naik setelah Presiden AS Donald Trump mengancam sanksi ekonomi terhadap mitra dagang Iran.

HOUSTON – Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan signifikan pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026). Lonjakan ini dipicu oleh ancaman sanksi ekonomi baru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap mitra dagang Iran.

Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi patokan internasional, ditutup pada harga US$ 94,39 per barel. Angka tersebut mencatatkan kenaikan sebesar 61 sen atau 0,65%.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS ditutup di level US$ 87,06 per barel. Harga ini naik 23 sen atau 0,26% dibandingkan sesi sebelumnya.

Secara mingguan, kedua patokan harga minyak tersebut menunjukkan tren penguatan yang kuat. Brent tercatat naik 6,39%, sedangkan WTI menguat 5,66%.

Kenaikan harga ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan pasokan global. Ketegangan antara Washington dan Teheran diprediksi akan mengganggu distribusi energi dalam beberapa pekan ke depan.

Analisis dari Again Capital menunjukkan bahwa sanksi menjadi instrumen utama AS untuk menekan Iran. Pemerintah Iran sendiri telah merespons ancaman tersebut dengan janji untuk memberikan balasan yang menghancurkan.

Meski demikian, beberapa analis menilai dampak langsung terhadap pasokan mungkin tidak seburuk yang dibayangkan. Ekspor Iran saat ini sudah terhambat oleh blokade angkatan laut AS yang telah berlangsung selama lima bulan.

Risiko utama kini bergeser pada eskalasi insiden pelayaran di Selat Hormuz. Kondisi lalu lintas di jalur strategis tersebut dilaporkan masih jauh di bawah tingkat normal.

Data dari layanan pelacakan kapal Kpler menunjukkan hanya tujuh kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Kamis lalu. Angka ini tercatat separuh dari jumlah lalu lintas pada hari sebelumnya.

Sebelum konflik pecah pada akhir Februari, Selat Hormuz menangani sekitar seperlima dari total pasokan minyak dan gas alam cair global. Gangguan pada jalur ini menjadi perhatian serius bagi pelaku pasar energi.

Pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di wilayah lain yang turut menekan pasokan. Pembatasan produksi dari negara utama seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait masih terus berlanjut.

Selain konflik di Timur Tengah, serangan militer Ukraina terhadap kilang minyak di kota Perm, Rusia, menambah ketidakpastian. Serangan tersebut menyasar fasilitas yang berjarak lebih dari 1.600 kilometer dari perbatasan Ukraina.

Di sisi lain, harga emas batangan Antam di dalam negeri turut merespons kondisi pasar global. Pada Sabtu (22/8/2026), harga emas Antam naik Rp 15.000 menjadi Rp 2.740.000 per gram.

Upaya diversifikasi pasokan terus dilakukan untuk meredam dampak krisis. Penggunaan jalur pipa, peningkatan produksi minyak serpih AS, serta pemulihan logistik di Venezuela menjadi faktor penyeimbang volume pasokan saat ini.