JAKARTA – PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED) mencatatkan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I-2026 dengan pertumbuhan laba bersih mencapai 43,2 persen secara tahunan (year-on-year). Perusahaan alat kesehatan tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp221,5 miliar, didorong oleh peningkatan volume penjualan yang masif.
Pendapatan bersih perseroan tercatat sebesar Rp1,17 triliun pada periode enam bulan pertama tahun 2026. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 26 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kinerja positif ini didukung oleh efisiensi operasional yang tercermin dari membaiknya margin profitabilitas. EBITDA margin perusahaan kini mencapai 23,3 persen, sementara net profit margin berada di level 19 persen.
Pertumbuhan volume penjualan secara keseluruhan tercatat meningkat 33,2 persen secara tahunan. Segmen Medical Disposable & Consumables menjadi kontributor utama dengan lonjakan volume penjualan mencapai 43,5 persen.
Secara nilai, segmen Medical Disposable & Consumables mencatatkan penjualan sebesar Rp595 miliar atau tumbuh 30,3 persen. Segmen Wound Care turut memberikan kontribusi positif dengan pertumbuhan penjualan sebesar 23,5 persen.
Strategi ekspansi yang dilakukan manajemen menjadi faktor kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan tersebut. Fokus perusahaan saat ini mencakup pengembangan produk baru, perluasan pasar ekspor, serta penambahan jaringan ritel dan distribusi.
Prospek pertumbuhan OMED diproyeksikan akan terus berlanjut hingga akhir tahun 2026. Salah satu katalis utama adalah rencana dimulainya produksi massal produk intraocular lens (IOL) yang dijadwalkan pada kuartal IV-2026.
Analis pasar menilai langkah tersebut akan memberikan tambahan pendapatan signifikan bagi perseroan. Seiring dengan proyeksi kinerja tersebut, rekomendasi saham OMED kini ditingkatkan menjadi Buy.
Target harga saham OMED ditetapkan pada level Rp280 per lembar untuk jangka waktu 12 bulan ke depan. Proyeksi ini mengimplikasikan potensi kenaikan sekitar 19,7 persen dari harga penutupan terakhir di posisi Rp234 per saham.
Valuasi perusahaan dihitung menggunakan kombinasi metode discounted cash flow (DCF) dan price to earnings (P/E) dengan bobot seimbang. Pada target harga tersebut, OMED diperkirakan akan diperdagangkan pada P/E 2026 sebesar 17,1 kali.
Rasio tersebut dinilai masih selaras dengan rata-rata historis P/E tiga tahun perseroan yang berada di kisaran 16,9 kali. Meski demikian, investor tetap diminta memperhatikan sejumlah risiko yang mungkin memengaruhi kinerja emiten.
Beberapa faktor risiko yang dicatat meliputi potensi pelemahan permintaan pasar dan kenaikan biaya input produksi. Selain itu, volatilitas nilai tukar mata uang serta hambatan dalam eksekusi rencana ekspansi menjadi poin yang perlu dicermati oleh pelaku pasar.






