JAKARTA – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mempercepat ekspansi bisnis panas bumi nasional melalui optimalisasi aset eksisting dan eksplorasi wilayah baru. Langkah strategis ini diresmikan dalam ajang The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026 di Jakarta.
Perusahaan menandatangani dua surat pernyataan komitmen atau Letter of Intent (LoI) bersama PT PLN (Persero) dan PT PLN Indonesia Power (PLN IP). Kesepakatan ini mencakup pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Bottoming Unit (BU) di Ulubelu, Lampung, dan Lahendong, Sulawesi Utara.
Proyek PLTP Ulubelu BU direncanakan memiliki kapasitas 30 megawatt (MW), sementara PLTP Lahendong BU sebesar 15 MW. Kedua pembangkit ini akan memanfaatkan panas sisa dari operasi eksisting menggunakan teknologi binary cycle.
Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menyatakan bahwa penambahan kapasitas ini bertujuan meningkatkan pasokan listrik bersih yang andal. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di wilayah operasional terkait.
Kedua proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi secara komersial atau Commercial Operation Date (COD) pada 2028. Saat ini, konsorsium PGE dan PLN IP tengah menyiapkan pembentukan perusahaan patungan serta penyusunan Power Purchase Agreement (PPA).
Selain optimalisasi aset, PGE resmi menerima mandat eksplorasi wilayah panas bumi baru di Cubadak Panti, Sumatra Barat. Penugasan ini tertuang dalam Surat Keputusan Menteri ESDM Nomor 176.K/EK.04/MEM.E/2026.
Wilayah PSPE Cubadak Panti mencakup area seluas 29.897 hektare dengan estimasi potensi cadangan mencapai 77 megawatts electric (MWe). Potensi tersebut diproyeksikan mampu melistriki hingga 40 ribu rumah tangga.
Ahmad Yani menyebut penugasan ini sebagai bentuk kepercayaan pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Pengembangan di Sumatra Barat juga selaras dengan komitmen daerah tersebut sebagai green province.
Untuk mendukung pendanaan, PGE sebelumnya telah memperkuat struktur modal melalui fasilitas pinjaman non-tunai sebesar USD75 juta dari Bank Mizuho. Dana tersebut dialokasikan untuk menunjang kebutuhan operasional dan pengembangan proyek-proyek panas bumi perusahaan.
PGE saat ini menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028. Target tersebut akan terus ditingkatkan hingga mencapai 1,8 GW pada tahun-tahun berikutnya sebagai bagian dari strategi menjadi produsen panas bumi kelas dunia.
Perusahaan juga tengah menggarap beberapa proyek strategis lainnya secara simultan. Proyek tersebut meliputi PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan serta PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu.
Inisiatif ini dipandang sebagai kontribusi nyata PGE dalam mendukung target Net Zero Emission 2060. Pemanfaatan energi panas bumi diposisikan sebagai pengganti energi fosil untuk menopang kebutuhan listrik nasional jangka panjang.






