Energi

Harga Minyak Turun Tiga Hari Berturut-turut, WTI Sentuh US$ 80,97

23
×

Harga Minyak Turun Tiga Hari Berturut-turut, WTI Sentuh US$ 80,97

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga minyak dunia yang mengalami penurunan di layar monitor perdagangan
Harga minyak dunia WTI kembali melemah ke level US$ 80,97 per barel pada perdagangan Rabu (26/8/2026).

JAKARTA – Harga minyak dunia kembali melanjutkan tren koreksi pada perdagangan Rabu (26/8/2026). Hingga pukul 07.17 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 di New York Mercantile Exchange terpantau berada di level US$ 80,97 per barel.

Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 1,69% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang sempat berada di angka US$ 82,36 per barel. Koreksi ini menjadi penurunan yang terjadi selama tiga hari berturut-turut di pasar komoditas global.

Penurunan harga minyak juga terjadi pada jenis Brent yang dilaporkan telah tergelincir di bawah level US$ 87 per barel. Secara akumulatif, tekanan jual yang terjadi sepanjang pekan ini telah menyeret harga minyak dunia turun hingga 8%.

Sentimen utama yang memicu pelemahan harga adalah sinyal positif terkait meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran dan Oman saat ini tengah membahas kerangka kerja sementara untuk memastikan kelancaran pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, telah melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi. Keduanya membahas inisiatif pembentukan koridor maritim bersama sebagai langkah mitigasi konflik.

Berdasarkan pernyataan resmi Kantor Berita Oman, kedua pihak sepakat untuk melanjutkan pembahasan teknis. Fokus utama diskusi mencakup pengelolaan selat di masa depan serta mekanisme pertukaran informasi lalu lintas maritim.

Selain itu, pembicaraan tersebut juga mencakup penyediaan layanan keamanan maritim yang relevan bagi kapal-kapal tanker yang melintas. Upaya diplomatik ini dinilai pasar sebagai langkah krusial untuk membuka kembali jalur pasokan yang sempat terhambat.

Investor saat ini cenderung mengabaikan rencana Amerika Serikat untuk meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran. Fokus pasar sepenuhnya beralih pada prospek perdamaian yang diprediksi dapat menstabilkan pasokan minyak global.

Meskipun mengalami koreksi dalam beberapa hari terakhir, harga minyak mentah sebenarnya masih mencatatkan kenaikan sekitar 40% sepanjang tahun berjalan. Lonjakan harga tersebut sebelumnya dipicu oleh konflik berkepanjangan antara AS dan Iran yang membatasi pasokan dari Teluk Persia.

Kondisi pasar energi yang melandai ini terjadi di tengah dinamika ekonomi domestik Indonesia. Pada hari yang sama, nilai tukar Rupiah tercatat melemah tipis ke level Rp17.879 per dolar AS.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan tren penguatan ke posisi 6.388,23. Pelaku pasar terlihat masih mencermati sentimen global serta tinjauan indeks MSCI sebagai acuan investasi.

Di sektor korporasi, sentimen positif juga datang dari PT Harta Djaya Karya (MEJA). Pemegang saham telah menyetujui peningkatan modal dasar perseroan dari Rp100 miliar menjadi Rp208,64 miliar untuk mendukung rencana akuisisi TCP.