Investasi

Pemerintah Resmi Tawarkan Sukuk Ritel SR025, Targetkan Dana Rp40 Triliun

27
×

Pemerintah Resmi Tawarkan Sukuk Ritel SR025, Targetkan Dana Rp40 Triliun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi instrumen investasi syariah Sukuk Ritel seri SR025 dengan latar belakang gedung Kementerian Keuangan
Pemerintah resmi menawarkan Sukuk Ritel SR025 dengan target perolehan dana sebesar Rp40 triliun.

JAKARTA – Pemerintah resmi membuka masa penawaran instrumen investasi syariah Sukuk Ritel (SR) seri SR025 mulai Jumat (21/8/2026) hingga 16 September 2026. Instrumen ini diproyeksikan mampu menghimpun dana hingga Rp 40 triliun di tengah antusiasme investor ritel terhadap aset pendapatan tetap.

Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menetapkan tingkat imbal hasil atau kupon sebesar 6,80% per tahun untuk tenor tiga tahun. Sementara itu, untuk tenor lima tahun, pemerintah menawarkan imbal hasil sebesar 6,90% per tahun.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai prospek SR025 tetap kuat meski menawarkan kupon yang sedikit lebih rendah dibandingkan seri sebelumnya. Kondisi ekonomi domestik yang stabil menjadi faktor pendukung utama minat investor.

Bank Indonesia saat ini tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Di sisi lain, angka inflasi per Juli 2026 tercatat sebesar 2,88%, sehingga imbal hasil SR025 masih memberikan selisih yang menarik bagi investor.

Josua menyebut penetapan kupon tersebut merupakan langkah tepat pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara daya tarik produk dan efisiensi biaya utang. Langkah ini diambil di tengah dinamika pasar surat utang yang dipengaruhi oleh ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah.

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun sempat menyentuh angka 7,02% pada pertengahan Agustus 2026. Kondisi pasar yang fluktuatif ini membuat investor cenderung mencari instrumen yang memberikan kepastian pendapatan.

Keunggulan utama SR025 terletak pada jaminan pemerintah serta pajak imbalan yang kompetitif, yakni hanya sebesar 10%. Selain itu, fitur perdagangan di pasar sekunder memberikan fleksibilitas bagi investor yang membutuhkan likuiditas.

Investor yang memprioritaskan fleksibilitas disarankan memilih tenor tiga tahun. Sementara itu, tenor lima tahun lebih cocok bagi investor yang ingin mengunci imbal hasil lebih lama di tengah potensi penurunan suku bunga pada 2027 hingga 2028.

Strategi diversifikasi dengan membagi modal ke dalam dua tenor tersebut dinilai sebagai pilihan bijak bagi investor dengan dana cukup. Hal ini memungkinkan kombinasi antara kebutuhan likuiditas jangka pendek dan pengamanan imbal hasil jangka panjang.

Pemerintah optimistis SR025 dapat menyamai capaian penjualan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI030 yang menembus Rp 40 triliun. Stabilitas nilai tukar rupiah dan volatilitas pasar saham menjadi faktor kunci yang dapat mendorong minat investor beralih ke instrumen syariah ini.

Kemampuan SR025 menjangkau segmen investor syariah dan investor umum secara luas juga menjadi nilai tambah. Efektivitas pemasaran melalui jaringan mitra distribusi akan menjadi penentu utama dalam mencapai target penyerapan dana tersebut.