JAKARTA – Empat gunung berapi aktif di Indonesia, yakni Gunung Anak Krakatau, Gunung Ibu, Gunung Semeru, dan Gunung Ili Lewotolok, dilaporkan mengalami erupsi secara beruntun pada Minggu (6/9/2026). Aktivitas vulkanik ini tercatat oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terjadi dalam rentang waktu pagi hari dengan ketinggian kolom abu yang bervariasi.
Gunung Ibu di Maluku Utara menjadi gunung pertama yang meletus pada pukul 04.55 WIT dengan kolom abu mencapai 400 meter. Erupsi tersebut terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 15 milimeter dan durasi selama 35 detik.
Tak lama berselang, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur menyusul erupsi pada pukul 06.11 WITA. Letusan ini mengeluarkan abu vulkanik setinggi 400 meter dengan amplitudo maksimum 40 milimeter serta durasi 40 detik.
Aktivitas vulkanik kemudian berlanjut ke Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda pada pukul 07.10 WIB. Erupsi ini tercatat memiliki amplitudo maksimum 50 milimeter dengan durasi letusan selama 16 detik.
Gunung Semeru di Jawa Timur menjadi gunung keempat yang meletus pada pukul 07.51 WIB. Kolom abu yang dihasilkan mencapai ketinggian 1.000 meter di atas puncak Mahameru, dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi 102 detik.
Pakar geologi menegaskan bahwa erupsi simultan ini tidak disebabkan oleh adanya satu jalur magma yang menghubungkan keempat gunung tersebut. Secara geologis, tidak terdapat mekanisme jaringan saluran magma bawah tanah tunggal yang menyatukan dapur magma gunung-gunung tersebut.
Fenomena ini murni terjadi karena masing-masing sistem vulkanik telah mencapai tahap kritis akumulasi tekanan fluida dan magma. Erupsi pada satu gunung tidak secara langsung memicu aktivitas vulkanik di gunung lainnya.
Perbedaan tinggi kolom abu dan karakter erupsi mencerminkan variasi dinamika internal setiap gunung. Faktor viskositas magma serta kandungan gas vulkanik seperti H2O, CO2, dan SO2 menjadi penentu utama intensitas ledakan.
Magma dengan viskositas tinggi dan kandungan gas melimpah cenderung menghasilkan ledakan yang lebih eksplosif. Proses ini memecah magma menjadi partikel abu halus yang lebih mudah terbawa angin ke wilayah yang jauh.
Sebelumnya, Badan Geologi juga mencatat fenomena serupa terjadi pada akhir Agustus 2026. Sebanyak enam gunung api di Indonesia sempat erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Rita Susilawati, menyatakan bahwa Indonesia yang berada di kawasan Cincin Api Pasifik memungkinkan terjadinya erupsi berbarengan. Hal ini merupakan dinamika vulkanik independen tanpa adanya keterikatan sistemik antar gunung.
PVMBG terus mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi rekomendasi zona bahaya yang telah ditetapkan. Warga diminta tidak panik dan selalu memantau informasi resmi terkait status aktivitas gunung api di wilayah masing-masing.






