Industri

Kemenperin Ungkap Kinerja Industri Tekstil Jelang Pembentukan BUMN Baru

59
×

Kemenperin Ungkap Kinerja Industri Tekstil Jelang Pembentukan BUMN Baru

Sebarkan artikel ini
Staf Khusus Menteri Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief memberikan keterangan terkait kinerja industri tekstil
Staf Khusus Menteri Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief menjelaskan tren positif industri tekstil nasional.

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan bahwa kinerja industri tekstil nasional saat ini menunjukkan tren positif, terutama pada sektor yang berorientasi ekspor. Kondisi ini menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam merencanakan pembentukan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang fokus pada sektor tekstil.

Staf Khusus Menteri Perindustrian sekaligus Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengungkapkan bahwa rencana tersebut didasarkan pada data Indeks Kepercayaan Industri (IKI). Data tersebut menunjukkan kinerja subsektor tekstil sedang berada dalam posisi yang baik untuk dikembangkan.

Meski demikian, pemerintah belum dapat merinci bentuk ideal dari BUMN tekstil yang akan dibentuk. Kemenperin menegaskan bahwa saat ini adalah momentum yang tepat untuk memperkuat struktur industri tekstil nasional.

Pihak Kemenperin membedakan kinerja industri tekstil dengan industri pakaian jadi atau garmen. Industri tekstil dan garmen yang berorientasi ekspor dinilai memiliki kinerja yang stabil dengan permintaan serta produksi yang baik.

Sebaliknya, industri garmen yang menyasar pasar domestik saat ini masih mengalami kontraksi. Kemenperin menduga tekanan tersebut dipicu oleh lonjakan produk pakaian jadi impor dengan harga murah yang membanjiri pasar dalam negeri.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Kemenperin mendukung penuh arahan Presiden mengenai pengetatan pengawasan di perbatasan. Kebijakan ini difokuskan pada pembatasan masuknya produk impor, khususnya pakaian jadi ilegal.

Data Kemenperin mencatat pertumbuhan industri tekstil dan pakaian jadi sebesar 6,36 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Angka tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan pertumbuhan pada kuartal I 2026 yang berada di level 4,86 persen.

Secara historis, sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,55 persen sepanjang tahun 2025. Sebelumnya, pada tahun 2024, sektor ini tumbuh sebesar 4,26 persen.

Dari sisi perdagangan, sektor industri kimia, farmasi, dan tekstil (IKFT) masih mencatatkan surplus yang cukup sehat. Pada tahun 2025, total ekspor sektor tersebut mencapai US$ 54,03 miliar, sementara nilai impor tercatat sebesar US$ 49,55 miliar.

Khusus untuk komoditas pakaian jadi, nilai ekspor pada periode Januari hingga Juli 2026 mencapai US$ 4,35 miliar. Angka ini naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar US$ 4,21 miliar.

Di sisi lain, sektor ini menghadapi tantangan pada penyerapan tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja di industri tekstil tercatat turun dari 1,08 juta orang pada tahun 2024 menjadi 1,013 juta orang pada tahun 2025.

Sebaliknya, tenaga kerja di industri pakaian jadi justru mengalami kenaikan. Jumlah tenaga kerja sektor ini meningkat dari 2,896 juta orang pada 2024 menjadi 2,943 juta orang pada 2025.

Febri menambahkan bahwa perbedaan data tersebut menegaskan pentingnya melihat industri tekstil dan pakaian jadi sebagai subsektor yang berbeda. Pemetaan berdasarkan orientasi pasar menjadi kunci dalam menentukan kebijakan strategis ke depan.