Industri

BRIN Olah Rumput Laut Cokelat Menjadi Sabun Ramah Lingkungan

45
×

BRIN Olah Rumput Laut Cokelat Menjadi Sabun Ramah Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Peneliti BRIN meneliti rumput laut cokelat sebagai bahan baku sabun ramah lingkungan
BRIN mengembangkan potensi rumput laut cokelat menjadi produk bernilai ekonomi tinggi seperti sabun.

JAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama The University of Queensland kini tengah mengembangkan potensi pemanfaatan rumput laut cokelat (Sargassum sp.) menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang ramah lingkungan. Inisiatif yang didukung oleh program KONEKSI ini bertujuan mengoptimalkan pengolahan rumput laut yang selama ini hanya menjadi komoditas ekspor mentah.

Peneliti Pusat Riset Elektronika BRIN, Athanasia Amanda Septevani, menyatakan bahwa Sargassum memiliki kandungan alginat yang melimpah. Senyawa ini berfungsi sebagai bahan pengental, pengemulsi, hingga penstabil dalam industri makanan, kosmetik, dan biomaterial.

Hingga saat ini, belum ada industri skala besar di Indonesia yang mengolah Sargassum secara optimal. Akibatnya, rumput laut jenis ini lebih sering diekspor atau sekadar diolah menjadi pupuk konvensional.

Melalui kolaborasi riset ini, tim peneliti memperkenalkan metode pengolahan yang dapat diterapkan masyarakat secara mandiri. Air perasan rumput laut diproses menjadi ekoenzim, sementara ampasnya dimanfaatkan untuk menghasilkan material alginat.

Ekoenzim tersebut dibuat melalui proses fermentasi menggunakan molase dan mikroba EM4. Cairan ini terbukti efektif sebagai pembersih organik untuk rumah tangga, termasuk mencuci sayuran dan buah-buahan.

Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa ekoenzim Sargassum memiliki sifat antibakteri yang kuat. Produk ini mampu menghambat pertumbuhan bakteri patogen berbahaya seperti Escherichia coli dan Staphylococcus aureus.

Sosialisasi dan pelatihan pembuatan formula ini telah diberikan kepada masyarakat pesisir di Desa Duwet, Gunungkidul, Yogyakarta. Penggunaan bahan-bahan yang mudah diakses memungkinkan warga memproduksi sabun antibakteri secara mandiri.

Pihak peneliti menyebut adanya potensi komersialisasi produk turunan ini melalui koperasi lokal. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir sekaligus mengurangi limbah rumput laut yang terbuang.

Selain kebutuhan rumah tangga, Sargassum memiliki prospek besar sebagai biomaterial berkelanjutan. Material ini dapat dikembangkan menjadi kemasan pangan yang memiliki sifat antibakteri alami untuk menjaga keamanan pangan.

Pemanfaatan selulosa dan alginat dari rumput laut juga memungkinkan pengembangan sistem sensor kolorimetri. Teknologi ini berfungsi sebagai detektor perubahan warna untuk memantau kualitas pangan berdasarkan tingkat pH.

Dalam sektor lingkungan, alginat dari Sargassum dapat diaplikasikan dalam sistem deteksi elektrokimia. Inovasi ini dirancang khusus untuk mengidentifikasi kandungan logam berat di perairan Indonesia.

Penerapan teknologi ini diharapkan menjadi solusi bagi masyarakat maupun industri dalam mengolah sumber daya pesisir. Pemanfaatan multifungsi ini dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekonomi sirkular berbasis kekayaan laut domestik.

Pengembangan hilirisasi rumput laut di Indonesia kini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk dorongan untuk menjadikan wilayah seperti Bulukumba sebagai pusat industri rumput laut. Langkah ini sejalan dengan tren global pemanfaatan rumput laut sebagai material alternatif yang berkelanjutan.