HONG KONG – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) di lingkungan sekolah memicu perdebatan sengit setelah riset terbaru menunjukkan adanya korelasi antara ketergantungan teknologi dengan penurunan prestasi akademik siswa. Studi terhadap 26.000 siswa di Cina mengungkapkan bahwa nilai ujian para pengguna AI merosot hingga 20 persen dalam jangka panjang.
Penelitian yang dilakukan oleh akademisi dari Universitas Stockholm dan Universitas Hong Kong ini melacak perkembangan siswa selama 30 bulan, dari September 2022 hingga Juni 2025. Data menunjukkan bahwa meski AI membantu efisiensi pengerjaan tugas, kemampuan siswa dalam menghadapi ujian justru melemah secara signifikan.
Penggunaan AI generatif tercatat meningkatkan nilai pekerjaan rumah sebesar 18 persen dengan durasi pengerjaan yang lebih singkat. Namun, efisiensi tersebut tidak berbanding lurus dengan pemahaman materi.
Dalam enam bulan penggunaan, nilai ujian bulanan siswa pengguna AI turun sebesar 20 persen. Penurunan tersebut mencapai puncaknya pada ujian masuk sekolah menengah atas Zhongkao sebesar 24 persen dan ujian masuk perguruan tinggi Gaokao sebesar 18 persen.
Sekitar 80 persen siswa yang menjadi objek penelitian mengaku rutin menggunakan chatbot seperti Doubao, DeepSeek, ChatGLM, Ernie Bot, dan Qwen. Mereka umumnya memanfaatkan teknologi tersebut untuk menyusun esai dan menyelesaikan soal latihan secara instan.
Temuan ini memicu respons dari CEO Nvidia, Jensen Huang, yang memiliki pandangan berbeda terkait pergeseran keterampilan di era AI. Huang menilai bahwa hilangnya kemampuan dasar, seperti berhitung matematika atau menghafal tabel perkalian, bukanlah masalah besar.
Menurut Huang, manusia akan secara alami memperoleh keterampilan baru yang lebih relevan saat memasuki dunia kerja. Ia menyebut fenomena ini sebagai pertukaran keterampilan, di mana kemampuan lama yang ditinggalkan akan digantikan oleh kompetensi teknologi yang lebih modern.
Pandangan tersebut kontras dengan hasil riset yang menunjukkan bahwa efisiensi jangka pendek tidak menjamin penguasaan ilmu pengetahuan. Efek penurunan kemampuan belajar ini bahkan membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk terlihat secara utuh.
Di sisi lain, perdebatan mengenai AI kini meluas ke berbagai sektor strategis. Presiden Donald Trump baru-baru ini menekankan pentingnya AI dalam percakapan publik, sementara para pemimpin industri teknologi seperti CEO Arm menyatakan bahwa AI berpotensi menyembuhkan penyakit mematikan seperti kanker.
Namun, tantangan infrastruktur menjadi hambatan utama dalam pengembangan teknologi ini. Industri saat ini masih berjuang mengatasi keterbatasan suplai chip untuk mendukung ekosistem AI yang masif.
Perkembangan AI juga mulai menyentuh isu etika dan kemanusiaan yang lebih dalam. Film dokumenter Naza yang diputar di Festival Film Venesia 2026 mengungkapkan penggunaan sistem AI canggih oleh militer dalam konflik bersenjata.
Di Indonesia, diskursus mengenai AI juga mulai merambah dunia kreatif dan pendidikan. Para ahli menyebut bahwa AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkaya proses kreatif, bukan sebagai pengganti desainer atau tenaga pendidik.
Pemerintah Indonesia sendiri telah meningkatkan anggaran riset perguruan tinggi menjadi Rp12 triliun pada awal 2026. Fokus riset kini diarahkan untuk menjawab tantangan nasional, termasuk evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memerlukan penyesuaian gizi berbasis wilayah.
Transisi teknologi ini menuntut keseimbangan antara adopsi alat bantu dan pemeliharaan kemampuan kognitif fundamental. Ketimpangan antara kecepatan teknologi dan kapasitas penyerapan pendidikan menjadi tantangan global yang memerlukan kebijakan adaptif.






