Bursa Saham

Prospek Saham Lapis Kedua Tetap Menarik hingga Akhir 2026

37
×

Prospek Saham Lapis Kedua Tetap Menarik hingga Akhir 2026

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan indeks saham di Bursa Efek Indonesia pada layar komputer
Saham lapis kedua dinilai memiliki prospek cerah hingga akhir tahun 2026.

JAKARTA – Saham lapis kedua atau second liner menunjukkan daya tahan yang lebih stabil dibandingkan indeks saham utama di Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2026. Meskipun secara keseluruhan masih berada di zona negatif, sejumlah saham kategori ini dinilai memiliki prospek cerah hingga akhir tahun 2026 hingga 2027.

Data per 25 September 2026 menunjukkan indeks IDX SMC Composite terkoreksi 21,80% secara year to date (YTD). Sementara itu, indeks IDX SMC Liquid mencatatkan penurunan sebesar 16,29% YTD.

Kinerja tersebut tergolong lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terpantau turun 27,81% YTD ke level 6.241 pada perdagangan Jumat (25/9). Indeks utama lainnya seperti LQ45 dan IDX80 bahkan mencatatkan koreksi lebih dalam, masing-masing sebesar 26,63% dan 29,90%.

Analis menilai ketahanan saham lapis kedua dipicu oleh rotasi investasi saat pasar saham mengalami tekanan hebat. Pelaku pasar cenderung mencari alternatif aset yang memiliki fundamental kuat atau berada di sektor potensial.

Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebut kondisi ini sebagai outperformance relatif. Meski indeks saham lapis kedua masih turun, penurunannya tidak sedalam indeks utama lainnya.

Sektor yang dinilai menarik di kelompok second liner meliputi komoditas emas, pertambangan, energi, perkebunan, serta infrastruktur. Beberapa emiten yang menjadi sorotan di antaranya PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).

Namun, investor diminta tetap waspada dan selektif dalam memilih emiten. Kenaikan harga saham tidak selalu mencerminkan fundamental perusahaan, karena pergerakan harga sering kali dipengaruhi oleh faktor likuiditas atau aksi korporasi.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memaparkan tiga faktor utama penggerak saham lapis kedua. Pertama adalah rotasi likuiditas dari saham berkapitalisasi besar (big caps) ke saham dengan katalis spesifik.

Kedua, komposisi sektor saham lapis kedua yang didominasi oleh sektor komoditas, hilirisasi, dan energi. Ketiga, basis valuasi yang menarik setelah mengalami koreksi cukup dalam di awal tahun 2026.

Tekanan investor asing saat ini masih menyasar saham perbankan besar dan telekomunikasi. Sebaliknya, beberapa saham non-big-cap justru terpantau mendapatkan aliran dana asing, yang memperkuat posisi mereka di tengah pasar yang volatil.

Prospek saham lapis kedua hingga akhir 2026 dinilai akan sangat bergantung pada pertumbuhan pendapatan dan kesehatan neraca keuangan emiten. Selain itu, sentimen positif diharapkan muncul dari pemulihan laba dan ekspansi kapasitas produksi.

Risiko pasar tetap harus diantisipasi oleh investor, terutama terkait suku bunga tinggi dan volatilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, risiko eksekusi proyek dan fluktuasi harga komoditas global dapat memengaruhi kinerja emiten ke depan.