JAKARTA – PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatatkan pembalikan kinerja yang signifikan pada semester I 2026 dengan membukukan laba bersih sebesar US$ 102 juta. Capaian ini merupakan peningkatan drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perusahaan mencatat kerugian sebesar US$ 16 juta.
Lonjakan laba tersebut didorong oleh pendapatan konsolidasian yang tumbuh 64% secara tahunan menjadi US$ 1,40 miliar. Selain itu, EBITDA perusahaan tercatat melonjak 191% menjadi US$ 512 juta dibandingkan US$ 176 juta pada periode Januari-Juni 2025.
Presiden Direktur Merdeka Copper Gold, Albert Saputro, menyatakan bahwa kinerja positif ini mencerminkan penguatan profitabilitas di seluruh portofolio operasi perusahaan. Sektor bisnis nikel dan emas menjadi kontributor utama bagi perolehan laba tersebut.
Anak usaha MDKA, yakni PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), memainkan peran krusial dalam pertumbuhan ini. MBMA mencatat peningkatan produksi bijih nikel sebesar 121% menjadi 15,2 juta wet metric tonnes (wmt) sepanjang semester I 2026.
Volume penjualan bijih nikel MBMA juga tumbuh 60% menjadi 12,4 juta wmt. Kinerja ini didukung oleh optimalisasi peralatan, efisiensi logistik, serta produktivitas yang lebih tinggi di area tambang utama.
Di lini pengolahan, produksi dan penjualan Nickel Pig Iron (NPI) masing-masing meningkat 20% secara tahunan. Sementara itu, produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) tercatat naik lebih dari dua kali lipat dengan pertumbuhan penjualan mencapai 72%.
Sektor emas turut memberikan kontribusi positif dengan total produksi grup yang mencapai 66.814 ons, atau naik 32% secara tahunan. Tambang Emas Tujuh Bukit menjadi penyumbang terbesar dengan produksi mencapai 49.402 ons.
Tambang Emas Pani, yang mulai beroperasi tahun ini, berhasil menyumbang produksi sebesar 17.412 ons. Manajemen memproyeksikan kontribusi dari Tambang Pani akan terus meningkat pada semester II 2026 seiring dengan percepatan laju penambangan dan efisiensi pengolahan.
Saat ini, MDKA terus menjalankan sejumlah proyek strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan. Proyek Tembaga Tujuh Bukit tengah dalam tahap studi kelayakan, sementara proyek Carbon-in-Leach (CIL) di Tambang Pani terus dikembangkan.
Di sektor material baterai, PT ESG New Energy Material sedang menggenjot produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Selain itu, PT Sulawesi Nickel Cobalt menargetkan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) dapat mulai beroperasi pada semester II 2026.
Meskipun kinerja operasional menguat, perusahaan tetap mewaspadai dinamika pasar global. Faktor eksternal seperti fluktuasi harga komoditas, biaya energi, nilai tukar, dan regulasi menjadi perhatian utama dalam menjaga stabilitas keuangan.
Manajemen menegaskan akan tetap fokus pada kedisiplinan eksekusi dan efisiensi biaya. Strategi alokasi modal yang terukur akan terus diterapkan guna mendukung proyek-proyek pertumbuhan jangka panjang perusahaan.




